Suaranusnatara.com-Pasar saham domestik kembali tak berdaya menghadapi tekanan eksternal dan pelemahan fundamental fiskal. IHSG ditutup melemah 1,95 persen ke level 8.066 di tengah sentimen negatif dari kawasan Asia.
Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Tiongkok menjatuhkan sanksi terhadap lima anak usaha Hanwha Ocean asal Korea Selatan. Tindakan itu dilakukan karena dugaan keterlibatan perusahaan tersebut dalam penyelidikan industri pelayaran Tiongkok oleh Amerika Serikat.
Beijing pun melarang organisasi dan individu di negaranya bertransaksi dengan perusahaan yang masuk daftar sanksi. Kebijakan itu memicu kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya tensi antara dua kekuatan ekonomi dunia.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari pelebaran defisit APBN. Data Kementerian Keuangan mencatat, per September 2025, defisit mencapai Rp371,5 triliun atau 1,56 persen terhadap PDB, naik dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 1,35 persen. Walau demikian, angka itu masih jauh di bawah batas aman yang ditetapkan pemerintah, yaitu 2,78 persen dari PDB.
Pendapatan negara menurun menjadi Rp1.863,3 triliun atau 65 persen dari target, sedangkan realisasi belanja mencapai Rp2.234,8 triliun. Sementara keseimbangan primer mencatat surplus Rp18 triliun, menunjukkan pendapatan negara masih mampu menutupi pengeluaran non-bunga utang.
Secara teknikal, indikator pasar menunjukkan sinyal pelemahan lebih lanjut. Stochastic RSI dan MACD membentuk death cross disertai lonjakan volume jual, dan posisi indeks kini berada di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek (MA5 dan MA20). Kondisi ini mengindikasikan potensi koreksi lanjutan menuju level support 7.950 dan resistance di 8.150.
Melihat kondisi tersebut, analis dari Phintraco Sekuritas menilai investor sebaiknya tetap selektif. Beberapa saham yang dinilai masih memiliki potensi positif antara lain Adi Sarana (ASSA), Trimegah Bangun Persada (NCKL), Indika (INDY), Medco (MEDC), dan Ultrajaya (ULTJ).

















Discussion about this post