Suaranusantara.com- Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya telah dipindahkan ke New York setelah ditangkap dalam operasi militer berskala besar.
Presiden AS Donald Trump menyebut pasangan tersebut diterbangkan menggunakan helikopter menuju kapal perang Amerika Serikat sebelum dibawa ke daratan AS.
Seorang pejabat Amerika Serikat menjelaskan bahwa penangkapan Maduro dilakukan oleh pasukan khusus elite dan bertujuan membawa keduanya menghadapi dakwaan hukum. Informasi ini disampaikan kepada media internasional, termasuk Sky News.
“Maduro ditangkap oleh pasukan khusus elit,” kata salah seorang pejabat AS, seraya mengatakan bahwa keduanya dibawa ke AS untuk menghadapi dakwaan. Dilansir dari Sky News, Minggu, 4 Januari 2025.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pemerintah Venezuela. Nahum Fernandez, tokoh partai berkuasa, mengatakan Maduro dan istrinya berada di rumah mereka di dalam pangkalan militer saat pasukan AS melakukan serangan.
Ia menyebut aksi tersebut sebagai penculikan terhadap presiden dan ibu negara, yang terjadi bersamaan dengan pengeboman di kawasan militer.
“Di situlah mereka (pasukan AS) melakukan pengeboman. Dan, di sana, mereka melakukan apa yang bisa kita sebut penculikan presiden dan ibu negara,” ungkapnya.
Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dilaporkan berlangsung sekitar 30 menit dan menyasar beberapa wilayah strategis, termasuk Caracas, Miranda, Aragua, serta La Guaira.
Warga ibu kota melaporkan mendengar ledakan keras dan melihat pesawat militer melintas rendah, disertai asap yang mengepul dari area pangkalan militer.
Trump menyampaikan bahwa sejumlah pasukan AS mengalami luka dalam operasi tersebut, namun tidak ada korban jiwa. Di sisi lain, pejabat Venezuela menyatakan ada korban meninggal akibat serangan, meskipun hingga kini jumlah pastinya belum diumumkan secara resmi.


















Discussion about this post