Suaranusantara.com- Presiden Prancis, Emmanuel Macron mendesak Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu untuk membatalkan serangan darat ke Lebanon. Hal ini bertujuan demi menjaga keutuhan wilayah Lebanon.
Macron menyampaikan hal itu langsung ke Netanyahu melalui sambungan telepon pada Rabu 4 Maret 2026.
Komunikasi ini merupakan percakapan langsung pertama sejak musim panas tahun lalu.
“Saya menyerukan kepada perdana menteri Israel untuk menjaga integritas teritorial Lebanon dan menahan diri dari operasi darat,” tulis Macron, Kamis 5 Maret 2026.
Desakan Macron ini muncul usai pasukan darat Israel memasuki sejumlah kota dan desa perbatasan di wilayah selatan Lebanon.
Percakapan telepon antara Macron dan Netanyahu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan secara tajam di sepanjang perbatasan selatan Lebanon.
Dalam pernyataannya, Macron kembali menegaskan bahwa keutuhan wilayah Lebanon harus tetap dijaga di tengah meningkatnya permusuhan.
Ia juga menyoroti hubungan historis yang telah lama terjalin antara Prancis dan Lebanon.
Selain berbicara dengan Netanyahu, Macron juga melakukan pembicaraan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun serta Perdana Menteri Nawaf Salam.
Menurut Macron, dalam pembicaraan tersebut ia menekankan perlunya Hizbullah untuk segera menghentikan serangannya terhadap Israel dan wilayah lainnya.
Tentara Israel pada Selasa 3 Maret 2026 mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan operasi darat ke wilayah selatan Lebanon.
Operasi tersebut disebut bertujuan membentuk sebuah “zona keamanan” untuk melindungi wilayah utara Israel.
Dalam pernyataannya seperti dikutip dari kantor berita Anadolu, militer Israel menyebut operasi itu sebagai operasi pertahanan di garis depan untuk melindungi kota-kota di wilayah utara.
Pasukan dari Divisi ke-91 dilaporkan telah dikerahkan dan ditempatkan di sejumlah titik strategis di selatan Lebanon, meskipun lokasi pastinya tidak diungkapkan.
Menurut militer Israel, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem pertahanan di wilayah perbatasan.
Operasi ini juga diklaim bertujuan menciptakan lapisan keamanan tambahan bagi penduduk di wilayah utara Israel dengan melakukan serangan skala besar terhadap infrastruktur milik kelompok Hizbullah guna mencegah upaya infiltrasi ke wilayah Israel.
Pada hari yang sama, kelompok Hizbullah menyatakan telah menargetkan tiga pangkalan militer di wilayah utara Israel serta di Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki Israel.
Serangan tersebut, menurut pernyataan Hizbullah, dilakukan menggunakan roket dan drone.
Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Sejak Sabtu 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terus melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.


















Discussion about this post