Suaranusantara.com- Ketua DPR RI Puan Maharani mengimbau negara-negara sahabat untuk turut andil dalam mendorong terciptanya perdamaian antara Iran dan Israel yang hingga kini masih terlibat konflik bersenjata.
Ia juga memperingatkan akan potensi dampak serius jika Selat Hormuz benar-benar ditutup oleh Iran, mengingat jalur itu menjadi salah satu titik strategis perdagangan global yang bisa memengaruhi stabilitas Indonesia.
Meskipun Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif, Puan menegaskan bahwa negara ini tetap memiliki tanggung jawab moral dalam upaya menciptakan perdamaian global. Ia menekankan bahwa konflik Iran-Israel telah memakan banyak korban jiwa dari kalangan sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
Baca Juga:Â Prabowo Subianto Teken Inpres Percepatan Pembangunan Enggano dan Pelabuhan Baai
Oleh karena itu, ia mengajak kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran dan mengutamakan jalur diplomasi.
Menurutnya, seluruh negara sebaiknya bersikap bijak dan tidak memperkeruh situasi. Ia mengingatkan bahwa jika ketegangan terus berlanjut, stabilitas kawasan akan terganggu, yang berujung pada keresahan global dan memperparah krisis kemanusiaan yang sedang terjadi.
“Apa yang akan terjadi kalau kemudian itu terus berkepanjangan. Tentu saja, sebaiknya kedua belah pihak menahan diri. Begitu juga negara-negara lain untuk menghimbau agar permasalahan yang terjadi di antara kedua negara bisa diselesaikan dengan baik dan jangan kemudian lebih memperkeruh suasana,” sebut Puan.
Guna mengantisipasi dampak perang Iran dan Israel terhadap situasi nasional, Puan mengatakan DPR RI bersama Pemerintah akan segera membahasnya. Hal ini berkesinambungan dengan pembahasan Rancangan APBN 2026 mengingat konflik di Timur Tengah berpotensi mempengaruhi perekonomian global. Puan pun menilai Pemerintah harus segera memitigasi perkembangan situasi global terkait dengan kurs rupiah, subsidi BBM dan dampak ekonomi lainnya.
Baca Juga:Â Peneliti Kritik Sikap DPR dan Pemerintah soal Gugatan UU TNI
“Termasuk terkait dengan rencana penutupan Selat Hormuz, Iran. Pasti akibatnya itu ke perekonomian. Jadi, pemerintah harus memitigasi terkait dengan perencanaan, kurs, kemudian subsidi BBM dan lain sebagainya. Intinya, bahwa kita politiknya bebas aktif. Nanti biar pemerintah yang menyampaikan apa sikap bebas aktif dari Pemerintah, tapi jangan merugikan politik dan situasi geografis indonesia,” imbuhnya.
Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dampaknya langsung mengkhawatirkan pasar energi global. Bagi Indonesia, yang masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas, gangguan di Selat Hormuz bisa memicu krisis energi dalam negeri.
Sebagai negara importir minyak utama dari Timur Tengah, Indonesia diperkirakan akan terdampak dalam beberapa hal, antara lain pembengkakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada APBN, kenaikan harga BBM domestik, serta inflasi akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat. Selain itu, Indonesia juga mengalami hambatan pasokan energi lain, yaitu LPG yang diimpor dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) yang melewati Selat Hormuz.
Walaupun keputusan Iran memblokade Selat Hormuz belum final karena parlemen mereka belum mengadopsi rancangan undang-undang berkaitan dengan rencana itu, Pemerintah diingatkan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi. Di sisi lain, Puan mengapresiasi langkah cepat pemerintah Indonesia yang melakukan langkah evakuasi terhadap WNI dari Iran dan Israel. Ia berharap evakuasi WNI berjalan dengan aman dan lancar sampai di tanah air.
“Pemulangan WNI sudah dilakukan, Pemerintah sangat proaktif untuk segera memulangkan dan mengevakuasi secara berkelanjutan masyarakat yang ada di sana. Dan mulai hari ini sudah mulai ada warga negara yang di sana dipulangkan, sudah ada di pesawat dan secara bertahap akan dipulangkan ke Indonesia,” tutupnya.


















Discussion about this post