
Jakarta-SuaraNusantara
Siti Zubaidah (25), istri dari Muhammad Aljahra alias Zoya (30) yang tewas dibakar hidup-hidup karena dituduh mencuri amplifier di sebuah mushola di Babelan, Bekasi, kini bingung meratapi masa depan.
Setelah suaminya meninggal dunia, Siti yang tengah hamil 6 bulan harus menghidupi seorang anak berusia 4 tahun. Padahal, selama ini dia terbiasa menggantungkan hidup pada pendapatan suami yang bekerja sebagai tukang reparasi sekaligus jual beli peralatan elektronik bekas, terutama amplifier (pengeras suara).
Barang-barang elektronik rusak itu dibeli Zoya dari sejumlah pedagang rongsokan. “Setelah diperbaiki, kemudian dijual kembali,” tutur Siti ketika ditemui wartawan di rumah kontrakannya di Kampung Jati RT 4 RW 5, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Bekasi, beberapa saat lalu.
Karena itu, Siti tidak percaya jika suaminya dituduh pencuri amplifier. Apalagi santer beredar kabar di media sosial bahwa amplifier milik mushola ternyata masih utuh berada di tempatnya. Dengan kata lain, amplifier yang berada di tangan Zoya memang milik Zoya pribadi.
Menurut Siti, pada hari Selasa, 1 Agustus 2017, Zoya pamit ingin mencari amplifier bekas. Zoya memang biasa ‘jemput bola’ berkeliling kampung-kampung mencari pedagang rongsokan yang menjual amplifier dan barang-barang elektronik lainnya.
“Pamitnya mau ke Cileungsi, tapi enggak tahu, namanya juga mencari barang bekas,” tutur Siti.
Entah bagaimana rute perjalanannya di hari naas itu, pada petang harinya sekitar pukul 5 sore, tibalah Zoya di Mushola Al-Hidayah, Kampung Muara Bakti RT 12 RW 07, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Di sana dia menunaikan sholat Ashar berjamaah bersama sejumlah warga.
Usai shalat, seorang warga merasa curiga melihat Zoya membawa tiga unit amplifier, dan menuduhnya mencuri. Ketika dikejar massa, Zoya kabur dengan menceburkan diri ke kali. Meski berhasil menyeberangi kali, ternyata warga kampung seberang sudah menunggunya di pinggir sungai.
Tak puas cuma menganiaya, warga menyiramkan minyak ke tubuh Zoya dan membakarnya hidup-hidup hingga tewas di lokasi kejadian dengan luka bakar sekitar 80 persen.
Kepolisian Sektor Babelan yang datang ke lokasi kejadian kemudian menyita tiga unit amplifier dan satu unit sepeda motor jenis Honda Revo milik Zoya dengan nomor polisi B 6755 FRF. Jenazah Zoya lantas dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramajati, Jakarta Timur, untuk diautopsi, namun proses autopsi ditolak pihak keluarga.
Ayah Siti, Pandi, meminta polisi mengusut kejadian main hakim sendiri yang menewaskan menantunya itu. Pandi tak percaya menantunya mencuri amplifier mushola. Sebab, ia mengenal Zoya sebagai sosok yang baik dan tidak neko-neko. “Kami orang enggak punya (miskin), tapi enggak mungkin mencuri, karena sudah mempunyai pekerjaan,” katanya.
Pihak keluarga almarhum secepatnya akan melaporkan kasus pengeroyokan ini kepada Kepolisian Resor Metro Bekasi. “Keluarga akan membuat laporan polisi,” kata Kasat Reskrim Polres Kabupaten Bekasi AKBP Rizal Marito, Jumat (4/8/2017).
AKBP Rizal menuturkan, menurut kesaksian warga, Zoya memang benar telah melakukan pencurian. “Saat itu dia (Zoya) sholat, pas yang sholat ini pergi, amplifier itu nggak ada, dia dikejar, ternyata amplifier itu ada di dia, makanya diteriakin maling,” ujar AKBP Rizal.
Penjelasan Rizal ini menjawab isu di media sosial yang menyebutkan korban adalah korban salah sasaran. Disebutkan di media sosial, korban sebetulnya membawa ampli sendiri lalu terlanjur dihajar massa. Meski korban kemungkinan besar memang pelaku pencurian, AKBP Rizal tetap sangat menyesalkan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan warga.
Terlepas dari apakah benar Zoya seorang pencuri atau bukan, tindakan main hakim hingga menghilangkan nyawa orang lain jelas tidak dapat dibenarkan, apalagi dengan cara sadis dibakar hidup-hidup. Harga tiga buah amplifier rasanya tidak sebanding dengan nyawa seorang manusia.
Saat ini, Siti belum tahu apa yang harus dilakukan untuk menghidupi anaknya, apalagi Siti juga sedang mengandung anak kedua, yang tentu saja akan membutuhkan biaya lagi. “Saya pasrah,” katanya.
Ketika suaminya masih hidup, penghasilan keluarga sekitar Rp. 1,2 juta – Rp. 2 juta setiap bulan. Uang sekecil itu habis untuk dipakai bayar kontrak rumah Rp. 500 ribu sebulan dan untuk keperluan makan sehari-hari. Kini jangankan penghasilan besar, penghasilan kecil pun tidak ada lagi.
Siti hanya bisa berharap bahwa para pelaku pembakaran terhadap suiaminya bisa segera ditangkap. Sebab, meski Zoya ternyata maling sekalipun, tetap saja Siti merasa dia tidak layak dibunuh secara sadis seperti itu.
“Ya, kalaupun dia maling, kan nggak pantas diperlakukan seperti itu. Dia diperlakukan kayak binatang aja,” kata Siti.
Polisi kini tengah mencari sosok pembakar Zoya. Siti berharap pelaku mendapatkan keadilan yang setimpal. “Mudah-mudahan terungkap yang membakar suami saya, cuma minta keadilan aja buat suami saya,” katanya.
Penulis: Yono/dari berbagai sumber

















