Suaranusantara.com- Rupiah pada penutupan perdagangan Selasa 26 Mei 2026 ditutup di angka Rp.17.795 atau nyaris tembus Rp.17.800 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kendati demikian, penutupan perdagangan Selasa, Rupiah menguat 0,29 persen atau 52 persen. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan anjloknya nilai tukar Rupiah sangat tidak masuk akal.
Hal ini dikarenakan kondisi fundamental ekonomi RI membaik. Menurutnya, pelemahan terjadi apabila ada gangguan fundamental.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal (DJP) Jakarta Selatan, Rabu 27 Mei 2026.
Fundamental ekonomi terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih tumbuh di atas 5%, inflasi terjaga sesuai sasaran serta defisit transaksi berjalan yang terkendali.
Meski demikian, penguatan dolar AS yang signifikan akibat ketidakpastian global membuat rupiah dan banyak mata uang negara lain melemah.
Baik pemerintah maupun Bank Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan untuk menahan laju pelemahan tersebut. Termasuk mengendalikan pasokan dolar AS di dalam negeri.
“Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu rupiah meningkat signifikan,” jelasnya.
Purbaya sudah melihat aktivitas investor asing yang mulai masuk ke dalam negeri. Ini merupakan modal bagus bagi Indonesia untuk melanjutkan kepercayaan investor.
Saat ditanya mengenai akan menguji kembali ketahanan (stress test) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), akibat tren pelemahan Rupiah, Purbaya menyatakan tidak.
Hal ini dikarenakan telah menghitung ketika harga minyak dunia menyentuh US$ 100 dolar. Purbaya malah berkelakar dirinya yang stress.
“Ya saya stress. Ngga ada, kita udah hitung pada waktu simulasi 100 dolar per barel. Itu asumsi Rupiah juga sudah kita perhitungkan. Jadi nggak ada masalah, saya nggak harus hitung ulang APBN,” ujarnya lagi.
Kendati rupiah melemah, Purbaya menyebut imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia mengalami penurunan.
Hal ini tak lepas dari aksi pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation demi menjaga stabilitas nilai tukar.
“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di (Direktorat Jenderal) Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” terang Purbaya.
Menurut Purbaya, selama pasar obligasi Indonesia terkendali, aliran modal asing masuk. Ke depan, lanjut Purbaya, akan ada aksi lagi untuk menjaga nilai tukar rupiah.
“Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga. Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” jelasnya.


















Discussion about this post