
Jakarta-SuaraNusantara
Tidak bisa disangkal bahwa nama besar Koes Plus tetap berkibar karena salah seorang personilnya, Yon Koeswoyo, tetap mengibarkan bendera Koes Plus dengan manggung di mana-mana, meski dengan formasi baru.
Tonny Koeswoyo (gitar melodi, keyboard) meninggal pada 27 Maret 2017, Yok Koeswoyo (bass) telah lama kehilangan minat untuk manggung dan hanya sesekali mau tampil dalam konser-konser reuni, sedangkan Murry (drum) juga telah meninggal pada 1 Februari 2014.
Dari empat pesonil Koes Plus, memang hanya Tonny dan Yon yang sepertinya ‘ngotot; terus bermusik hingga akhir hayat. Tapi Tonny dan Yon beda motivasi. Bila Tonny memang tidak bisa dipisahkan dari musik, maka Yon mengaku terus bernyanyi karena butuh uang.
Saat menjelang ajalnya, Tonny sempat dirawat di rumah sakit akibat kanker usus stadium lanjut. Dalam kondisi yang sudah sangat lemah menjelang ajalnya, Tonny masih berusaha mencipta lagu. Tonny menyanyikan liriknya, sementara gitarnya dipegangi oleh Onny Suryono, penyanyi era 60-an yang kini juga sudah almarhum. Itu terjadi karena Tonny tak kuat lagi memegang gitar sendiri.
Tonny memang seniman sejati. Dia terlahir untuk musik, hidup dan matinya hanya diisi dengan musik. Dialah motor penggerak sejati Koes Plus dan Koes Bersaudara. Ketika Tonny meninggal, kedua band tersebut bagai kehilangan nyawa. Mereka masih mengeluarkan album, tapi sudah tidak ada gregetnya. Apalagi selera musik juga telah berubah.
Pada masa tenggelamnya Koes Plus di pertengahan dekade 1980-an dan awal 1990-an, Yok, Yon dan Murry hidup susah. Tidak ada album baru Koes Plus yang meledak, dan tidak pula ada royalti dari album-album mereka di masa jaya. Tidak pula ada kesempatan manggung, karena sejak tahun 1974, Koes Plus memutukan untuk menjadi pemusik studio dengan menolak tawaran manggung.
Pada masa susah itu, Yon sempat patah hari karena ditinggal pergi istri. Dan ketika pada awal 1990-an dia menikah lagi, Yon sampai harus cari hutangan kesana kemari untuk biaya persalinan istrinya yang baru.
Sampai akhirnya pada tahun 1993, personil Koes Plus yang tersisa, menggebrak lewat konser di Balai Sarbini, Jakarta. Konser tersebut sukses luar biasa. Koes Plus ternyata masih punya banyak penggemar. Sejak saat itu, Koes Plus kembali sering manggung dalam konser-konser nostalgia.
Memasuki dekade 2000-an, Yok Koeswoyo perlahan menghilang karena merasa sudah tua dan tidak pantas lagi jingkrak-jingkrak di panggung, diikuti Murry yang tidak kuat lagi menabuh drum karena sering sakit-sakitan.
Tinggal Yon Koeswoyo yang terus setia mengibarkan bendera Koes Plus dengan formasi baru yang juga beberapa kali berubah. Ternyata Yon punya alasan sendiri, kenapa dirinya terus bernyanyi meski tubuh telah digerogoti usia.
“Saya kan tidak ada pensiun, tidak mendapatkan duit dari pemerintah. Itu duit dari mana? Memangnya tidak perlu uang untuk makan dan beli obat? Saya sekali check up saja Rp 3,5 juta, kalau seminggu sekali (chek up) saya duit dari mana? Kecuali kalau saya kaya sekali,” ujarnya suatu ketika.
Pada bulan Mei 2016 lalu, Yon sempat mengalami sesak napas. Paru-parunya didiagnosa bolong, yang membuatnya harus diopname selama lebih dari sebulan.
Yon menyebut peristiwa tersebut sebagai peringatan dari Tuhan. Ia sadar bahwa selama ini dirinya terlalu semangat dalam berpentas, sehingga seringkali ‘lupa daratan.’
Dua tahun terakhir, Yon memang mengalami komplikasi akibat penyakit diabetes yang diderita sejak lama. Kerusakan pada paru-paru dan livernya terjadi akibat imbas diabetes tersebut.
Beruntung selama menjalani perawatan, Yon banyak dibantu oleh penggemar. Saat itu ia mengaku kesulitan membayar biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit. Banyak penggemar yang mendengar kabar tersebut, kemudian memberi bantuan.
Penulis: Askur

















