SuaraNusantara.com-Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyoroti tiga tantangan utama yang perlu dihadapi dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan. Pertama, terdapat peningkatan fragmentasi ekonomi dan geopolitik yang tidak hanya disebabkan oleh konflik Rusia-Ukraina, tetapi juga oleh ketegangan geopolitik antara Cina dan Amerika Serikat, serta pergeseran sumber pertumbuhan ekonomi global.
Kedua, perkembangan digitalisasi yang pesat, yang mencakup berbagai sektor ekonomi dan keuangan, termasuk sistem pembayaran, memerlukan inovasi yang mempermudah aliran transaksi ekonomi. Bank Indonesia, sebagai otoritas sistem pembayaran, telah melakukan transformasi dengan menciptakan layanan sistem pembayaran yang andal dan berbasis teknologi terkini, seperti inovasi Fast Payment.
“Pengembangan hilirisasi bernilai tambah tinggi untuk menopang ketahanan pangan, energi maupun sumber daya alam lainnya guna mendukung ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan dikutip Minggu 17 September 2023.
Baca Juga:Â Bank Indonesia Perkuat Insentif Likuiditas Makroprudensial untuk Pertumbuhan Ekonomi
Ketiga, perubahan iklim dan demografi global menjadi perhatian. Sesuai dengan komitmen Indonesia dalam Kesepakatan Paris, langkah-langkah perlu diambil untuk mengurangi emisi karbon, sambil mempertimbangkan faktor demografi untuk mewujudkan ekonomi dan keuangan yang berkelanjutan.
Menanggapi tantangan-tantangan ini, Perry Warjiyo mengusulkan lima respon kebijakan yang perlu diterapkan. Pertama, memperkuat bauran kebijakan yang terintegrasi, mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, keuangan inklusif, dan kebijakan hijau.
Kedua, pengembangan industri hilirisasi dengan nilai tambah tinggi, untuk mendukung ketahanan pangan, energi, dan sumber daya alam, yang merupakan bagian dari ketahanan ekonomi nasional.
Ketiga, membuka peluang kerjasama perdagangan dan investasi yang menguntungkan, dengan tujuan untuk mengoptimalkan hilirisasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Keempat, mengadopsi teknologi terkini sambil memperhatikan potensi risiko yang terkait.
“Sebagai contoh, Bank Indonesia menerapkan inovasi teknologi pada fitur sistem pembayaran dengan konsep Satu Bahasa (QRIS dan open API), Satu Bangsa​ (konektivitas antar infrastruktur penyedia jasa sistem pembayaran), dan Satu Nusa (BI Fast dan CBDC),” tuturnya.
Kelima, meningkatkan kualitas pendidikan, pelatihan, dan pembentukan karakter sumber daya manusia yang unggul, termasuk melalui program vokasi berbasis digital. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat mengatasi tantangan ekonomi yang kompleks di masa depan.


















Discussion about this post