Suaranusantara.com- Universitas Indonesia (UI) pada Rabu 13 November 2024 telah menangguhkan gelar Doktor atas nama Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Penangguhan itu dilakukan berdasarkan keputusan antara Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (DGB UI, Senat Akademik (SA), rektor dan Majelis Wali Amanat.
Empat organ itu menggelar rapat Koordinasi UI yang hasilnya memutuskan menangguhkan gelar Doktor Bahlil Lahadalia.
“Kelulusan BL, mahasiswa Program Doktor (S3) SKSG ditangguhkan, mengikuti Peraturan Rektor Nomor 26 Tahun 2022, selanjutnya akan mengikuti keputusan sidang etik,” ujar Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI Yahya Cholil Staquf dalam keterangan yang diterima pada Rabu 13 November 2024.
“Keputusan ini diambil pada Rapat Koordinasi 4 Organ UI, yang merupakan wujud tanggung jawab dan komitmen UI untuk terus meningkatkan tata kelola akademik yang lebih baik, transparan, dan berlandaskan keadilan,” ujar Yahya lagi.
Bahlil yang menjalani Studi S3 di UI hingga mendapat gelar Doktor mendapat sorotan publik, hal ini dikarenakan Menteri ESDM itu menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu kurang dari dua tahun yakni 1 tahun 8 bulan saja.
Padahal sejatinya untuk menyelesaikan Studi S3, harusnya ditempuh selama tiga tahun atau bahkan lebih.
Lalu bagaimana jejak pendidikan Bahlil Lahadalia ?
Lahir dari keluarga sederhana yakni pada Bahlil 7 Agustus 1976 di Banda, Maluku Tengah.
Terbilang sederhana lantaran sang ayah hanya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya sebagai tukanh cuci.
Walau lahir dengan kesederhanaan, tak menyurutkan niat Bahlil untuk bersekolah hingga akhirnya berhasil seperti sekarang.
Pendidikan Bahlil dimulai dari tingkat Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Kolaka Timur, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kolaka di Sulawesi.
Setelah lulus, ia pindah ke Fakfak dan melanjutkan sekolah di SMA YAPIS Fakfak.
Saat masa remaja di masa SMA, Bahlil belajar sembari bekerja dengan menjadi sopir angkot demi menghidupi dirinya.
Berkat kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil ketika ia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay, Jayapura, Papua.
Meski sempat terganggu oleh tragedi kerusuhan Mei 1998, Bahlil Lahadalia tetap berhasil menyelesaikan pendidikannya meski di usia 26 tahun.
Selama masa kuliah, Bahlil aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan bahkan dipercaya menjadi Bendahara Umum Pengurus Besar HMI.
Setelah lulus dengan gelar S1, Bahlil memulai karirnya di perusahaan BUMN, Sucofindo, sebelum mendirikan kantor konsultan IT dan keuangan bersama rekan-rekannya.
Bahlil pun sekarang dikenal sebagai pemilik 10 anak usaha di bawah PT Rifa Capital, sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Tak puas hanya dengan menyandang S1, Bahlil melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Untuk karir politik, Bahlil memulai pada 2010 dengan bergabung Angkatan Muda Pembangunan Indonesia (AMPI), sayap Partai Golkar.
Lalu pada 2019, ia terlibat dalam kampanye Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai Direktur Penggalang Pemilih Muda Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Maju.
Dedikasi dan ketekunannya akhirnya membawa Bahlil Lahadalia ke posisi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan kini sebagai Menteri ESDM. Dan juga di partai politik dia dipercaya menduduki jabatan sebagai Ketua Umum (Ketum) Golkar.

















Discussion about this post