Suaranusantara.com- Menteri ESDM sekaligus Ketum Golkar, Bahlil Lahadalia saat ini tengah menuai sorotan atas gelar Doktor yang diraihnya.
Diketahui sebelumnya, Bahlil merupakan salah satu orang kepercayaan atau tangan kanan Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi.
Namun semenjak Jokowi lengser, seakan-akan pengaruh Presiden ke 7 RI membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap Bahlil, sebab Menteri ESDM itu meraih gelar Doktor dengan menjalani studi S3 di Universitas Indonesia (UI) menuai polemik.
Bahlil menempuh Studi S3 menuai polemik lantaran hanya ditempuh dalam waktu kurang dari dua tahun atau tepatnya satu tahun delapan bulan saja.
Padahal untuk menempuh S3 hingga meraih gelar Doktor diperlukan waktu tiga tahun atau bahkan lebih.
Tak cuma itu, disertasi Bahlil juga dinilai publik plagiat alias mengambil karya tulis orang lain.
Serta disebut-sebut juga disertasi Bahlil merupakan hasil joki.
Bahlil diketahui menjalani ujian terbuka doktor pascasarjana Kajian Strategik dan Global di Universitas Indonesia (UI), Depok pada Rabu 16 Oktober 2024.
Terkait pengaruh Jokowi luntur pasca lengser diutarakan langsung oleh Akademisi Cross Culture, Ali Syarief.
Ali Syarief mengatakan hal itu melalui akun media sosial X nya @alisyarief.
“Cum Laude Doktor Dari UI – Lalu harus ditunda. Ini sama (saja) dengan (harus) loncat bebas bunuh diri dari atas tugu monas. Sedih dan malunya (membekas dan) Menguning Se Nusantara,” sebutnya dilihat pada Minggu 17 November 2024.
Ketua Majelis Wakil Amanat (WMA) UI Dr (HC) KH. Yahya Cholil Staquf melalui siaran pers kepada media menyampaikan permintaan maaf terkait polemik gelar Doktor Bahlil.
Gus Yahya sapaan Yahya Cholil mengakui bahwa sumber kegaduhan itu berasal dari kekurangan pihak internal UI.
“UI memutuskan untuk menunda sementara (moratorium) penerimaan mahasiswa baru di Program Doktor (S3) SKSG hingga audit yang komprehensif terhadap tata kelola dan proses akademik di program tersebut selesai dilaksanakan,” jelasnya.
Gus Yahya juga mengatakan bahwa pihaknya telah menangguhkan gelar Doktor Bahlil.
Keputusan itu berdasarkan rapat koordinasi empat organ UI yakni Dewan Guru Besar (DGB), Senat Akademik (SA), rektor dan WMA.
Rapat itu digelar pada Selasa 12 November 2024 di Kampus UI Salemba, Jakarta.


















Discussion about this post