
Jakarta-SuaraNusantara
Kota Semarang yang menjadi Ibu Kota Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai kota paling toleran dan menghormati keberagaman. Namun di tengah ketenangan itu, KamisĀ 13 April 2017 kemarin malam, tiba-tiba hampir terjadi bentrokan antar warga.
Adalah Front Pembela Islam (FPI) yang rencananya akan mengukuhkan cabangnya di Kota Semarang. Namun hal itu gagal karena ribuan orang dari puluhan ormas yang ada di Kota Semarang melakukan penolakan.
Rencana pengukuhan FPI Kota Semarang dilakukan di rumah Ketua Advokasi FPI Jateng, Zaenal Petir, Jl. Pergiwati I no. 19, Bulu Lor, Semarang Utara, Kamis malam. Namun ribuan anggota ormas bersama warga sekitar sudah mengepung lokasi acara sejak siang.
Untuk mengamankan situasi, sedikitnya 500 personil Kepolisian Resor Kota Besar dan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Jawa Tengah bersenjata lengkap disiagakan.
Mendekati 19.00 WIB, suasana makin memanas. Massa yang menolak FPI bermaksud menerobos barikade aparat, hendak menyerbu rumah Zaenal Petir.
Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Polisi Abiyoso Seno Aji kemudian turun melakukan mediasi dialog kedua belah pihak. Audiensi dilakukan dengan mendatangkan perwakilan ormas yang menolak FPI untuk bertemu pihak FPI yang diwakili beberapa orang antara lain Ketua Tim Advokasi FPI Zaenal Petir, ketua DPD FPI Jateng Rofiudin, Ketua FPI Temanggung Sihabudin.
Di awal dialog, Iwan Cahyono dari Patriot Garda NKRI, langsung menyampaikan penolakan keberadaan FPI di Kota Semarang. Ia juga mengungkapkan kekecewaan terhadap pribadi Zaenal yang kini merupakan salah satu komisioner Komisi Informasi Publik tapi justru menjadi bagian ormas FPI.
IwanĀ menyebut Semarang tidak membutuhkan FPI. Yang dibutuhkan adalah sosok kreatif yang bisa bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat membangun kota Semarang.
“Sampai kapanpun kami menolak keberadaan FPI di Kota Semarang. Kami harap segera dibubarkan (acara pengukuhan),” kata Iwan di lokasi, Kamis (13/4/2017) malam.
Ferry Marhaen, dari Laskar Merah Putih menuturkan FPI harus ditolak hadir di Semarang karena berdasar rekam jejaknya, FPI dinilai selaluĀ menebar kebencian dan sering bertindakĀ intoleran. Padahal, sambung dia, Semarang bisa maju karena disangga beragam komponen suku, agama, etnis, maupun budaya.
“Kami minta acara ini dibubarkan. FPI kami tolak di Semarang. Saya minta kepada FPI jangan dibentuk di Semarang. Di daerah luar Semarang, keberadaan FPI selalu rusuh,” kata Ferry.
Selama lebih dari satu jam, dialog tak menentukan titik temu, sehingga akhirnya Abiyoso pun memutuskan untuk membubarkan acara demi kepentingan keamanan.
“Semua komponen yang ada di Kota Semarang menolak FPI. Tentunya saya memohon, jangan dipaksakan. Ini banyak yang menolak. Tidak ada FPI juga Semarang sudah aman,” kata Abiyoso.
Dia meminta massa FPI untuk berkaca pada kasus 2012 lalu dimana ulama FPI Rizieq Shihab ditolak tokoh Dayak di Palangkaraya.
“Kami tak berpihak siapapun. Polisi hanya berpihak kepada keamanan dan kenyamanan masyarakat. Jadi demi keamanan dan kenyamanan bersama, acara ini (DPW FPI Semarang) resmi dibubarkan,” tegas Abiyoso.
Untuk menjaga kondusifitas, Abiyoso menegaskanĀ tidak segan-segan menciduk siapapun dari kedua belah pihak yang memicu kerusuhan.
“Barang siapa yang memancing kerusuhan … yang memancing yang saya ambil. Silahkan pulang, Pak Zaenal mau bongkar-bongkar sekarang apa besok. Kalau mau bentuk (FPI), ya di negara lain silahkan. Semarang kita jaga sama-sama,” tegasnya.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya acara dibubarkan. Para pemimpin dan anggota FPI kemudian dimasukkan ke dalam mobil barakuda untuk dibawa ke lokasi aman dan pulang ke rumah masing-masing.
Koordinator FPI Jateng, Sihabudin, menyayangkan sikap aparat yang membatalkan acara FPI. “FPI itu kan ormas. Pembentukan ormas itu sendiri diatur dan dilindungi Undang-Undang. Jadi kenapa aparat harus melarang kami,” ujar Sihabudin, Kamis (13/4/2017).
Sementara itu, Ketua Advokasi FPI Zaenal Abidin Petir FPI mengatakan FPI di Semarang sebenarnya akan menjadi ormas yang humanis, tidak anarkis dan taat dengan hukum.
“Kami akan bersinergi dengan masyarakat. Kami juga akan membantu masyarakat yang memang memerlukan bantuan baik hukum atau lainnya,” katanya Jumat (14/4/2017).
Menurutnya pengusulan FPI Kota Semarang sudah dilakukan dan akan dikirim ke FPI ke Jakarta lengkap dengan nama pejabatnya. Namun demi keamanan FPI rela membubarkan acara itu. “Demi keamanan, karena FPI harus taat hukum,” kata Zaenal.
Gelombang penolakan acara pembentukan FPI Kota Semarang sudah dilontarkan oleh sejumlah organisasi dengan mengirimkan surat kepada pihak Polrestabes Semarang, sejak dua hari sebelum acara. (yono/dari berbagai sumber)

















