Suaranusantara.com- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini Kamis 20 Februari 2025 resmi menahan Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.
Hasto Kristiyanto ditahan setelah sebelumnya menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK sejak pagi tadi.
Pemeriksaan ini adalah kali keduanya dengan status Hasto Kristiyanto sebagai tersangka. Pemeriksaan pertama dilakukan pada Senin 13 Januari 2025 lalu.
Lalu Hasto dijadwalkan menjalani pemeriksaan kedua pada Senin 17 Februari 2025. Sayang, dia kala itu mangkir dengan alasan mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).
Saat pagi tadi, Hasto mengaku siap lahir batin apabila dia benar-benar ditahan oleh KPK.
“Ya sudah siap lahir batin,” ujar Hasto saat tiba di Gedung Merah Putih KPK untuk jalani pemeriksaan Kamis 20 Februari 2025.
Adapun Hasto ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa 24 Desember 2024 lalu dengan dijerat dua perkara yakni kasus suap dan perintangan penyidikan.
Lantas bagaimana profil dari Hasto Kristiyanto yang kini resmi ditahan KPK?
Hasto Kristiyanto Sekjen PDI Perjuangan ini lahir di Yogyakarta pada 7 Juli 1966. Semasa remaja, dia sudah menunjukan minatnya terhadap dunia politik.
Saat duduk di bangku SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Hasto gemar membaca buku-buku bertema politik.
Kecintaannya pada politik terus berkembang sampai ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Selama menjadi mahasiswa, Hasto aktif dalam berbagai organisasi.
Ia pernah menjabat Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM, sebuah posisi yang mencerminkan kepemimpinannya sejak usia muda.
Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi pada 1991, Hasto memulai perjalanan karier di dunia bisnis dengan bergabung di PT Rekayasa Industri sebagai Project Manager, sebelum akhirnya menjabat Project Director di PT Prada Nusa Perkasa.
Meski berkecimpung sebagai profesional di dunia bisnis, ketertarikan utama Hasto tetap pada dunia politik.
Hasto memulai langkah politiknya di PDI Perjuangan pada 2002 sebagai Wakil Sekretaris Bidang Media Massa dan Penggalangan DPP PDIP. Karier politiknya terus menanjak.
Pada Pemilu 2004, ia terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur yang meliputi Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek.
Hasto kemudian ditempatkan di Komisi VI, menangani perdagangan, perindustrian, investasi, dan koperasi.
Di internal partai, Hasto meniti karier sampai akhirnya dipercaya menggantikan Tjahjo Kumolo sebagai Sekjen PDI-P.
Dalam kapasitas ini, ia menjadi salah satu tokoh penting yang menggerakkan roda organisasi partai.


















Discussion about this post