Suaranusantara.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dinilai sebagai salah satu pemimpin dunia yang kiprahnya patut dinantikan pada tahun 2025. Penilaian ini datang dari media ternama Singapura, The Straits Times, yang memasukkan Prabowo dalam daftar 10 pemimpin global berpengaruh, bersama nama-nama besar seperti Donald Trump (Presiden Terpilih Amerika Serikat), Vladimir Putin (Presiden Rusia), Anwar Ibrahim (Perdana Menteri Malaysia), dan Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel).
Menurut The Straits Times, para pemimpin yang masuk daftar ini dianggap memiliki potensi besar untuk memengaruhi dinamika regional maupun geopolitik global.
Prabowo secara khusus dinilai dapat membawa perubahan signifikan dalam peran Indonesia di kawasan dan di panggung internasional.
“Presiden Kebijakan Luar Negeri Pertama”
Media tersebut menjuluki Prabowo sebagai “presiden kebijakan luar negeri pertama” Indonesia. Hal ini merujuk pada langkah awal Prabowo yang menunjukkan fokus besar pada diplomasi internasional.
Kurang dari satu bulan setelah dilantik, Prabowo telah melakukan perjalanan diplomatik intens, termasuk kunjungan ke China dan Amerika Serikat dalam waktu yang hampir bersamaan, serta menghadiri forum multilateral besar seperti APEC.
Langkah-langkah ini, menurut The Straits Times, mencerminkan ambisi Prabowo untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat diplomasi internasional, dengan motif utama ekonomi.
Prabowo menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, yaitu 8 persen, meningkat dari rata-rata 5 persen yang dicapai dalam pemerintahan sebelumnya.
Tantangan di Arena Global dan Domestik
Meski dianggap membawa kebijakan luar negeri yang segar, The Straits Times mencatat bahwa langkah-langkah Prabowo juga memicu perdebatan.
Penguatan hubungan Indonesia dengan China dan Rusia, misalnya, menimbulkan diskusi di dalam negeri tentang manfaat strategisnya bagi Indonesia.
Salah satu langkah berani Prabowo adalah mendorong keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa).
Pengumuman ini dilakukan hanya beberapa hari setelah pelantikannya. Langkah ini menunjukkan keberanian Prabowo untuk mengambil jalur berbeda dibanding pemerintahan sebelumnya, yang cenderung lebih berhati-hati dalam hubungan dengan blok-blok tertentu.
Namun, The Straits Times juga menyoroti tantangan bagi Prabowo untuk menyeimbangkan ambisi global dengan kritik domestik atas kebijakan-kebijakan internasionalnya.
Kemitraan Regional dengan Malaysia
Selain peran global, Prabowo juga disebut akan menjadi tokoh penting dalam politik kawasan ASEAN. Bersama Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, keduanya dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat kerja sama regional.
Kemitraan ini diharapkan dapat mendorong investasi lintas-batas, memperkuat konektivitas rantai pasok, dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Anwar, yang akan memimpin ASEAN pada 2025, telah mulai mempersiapkan berbagai inisiatif, termasuk finalisasi ASEAN-China Free Trade Area dan Digital Economy Framework Agreement.
Jika Indonesia dan Malaysia dapat bersekutu dalam agenda ini, kawasan Asia Tenggara diyakini akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat di kancah global.


















Discussion about this post