
Jakarta-SuaraNusantara
Penembakan terhadap sebuah mobil berisi satu keluarga yang terjadi di Sumatera Selatan adalah akibat ulah sopir yang tidak patuh hukum. Perbuatan menerobos razia polisi adalah suatu tindakan melanggar hukum. Terkait insiden tersebut, polisi diminta tidak takut untuk tetap bekerja membasmi kejahatan.
“Tindakan sopir menerobos razia membuat polisi berpikir ada sesuatu yang tidak beres. Polisi bisa menduga pengendara itu teroris, bandar narkoba, atau kejahatan lain, seperti penculikan anak,” ujar Direktur LBH HIMNI Amati Dachi, SH, kepada SuaraNusantara, di Jakarta, Kamis (20/4/2017).
Amati Dachi menilai, polisi harus tegas menindak segala kejahatan, yang penting sesuai aturan. Dia berharap kejadian penembakan mobil di Sumatera Selatan tidak membuat polisi takut untuk bertindak membasmi kejahatan.
“Biar apa yang telah terjadi menjadi pembelajaran buat seluruh masyarakat agar taat hukum,” katanya.
Tindakan pihak kepolisian, khususnya Polda Sumatera Selatan yang meminta maaf atas kejadian tersebut dan bertanggungjawab sepenuhnya atas seluruh pengobatan yang dialami korban penembakan, menurut Amati patut diapresiasi.
“Apalagi oknum polisi yang melakukan penembakan juga sedang diperiksa,” katanya.
Kronologi Penembakan
Sementara itu, Kapolres Lubuk Linggau, AKBP Hajat Mabrur Bujangga, menuturkan razia diikuti personel gabungan Sabhara dan Satlantas di bawah komando Polsek Lubuklinggau Timur, Selasa (18/4/2017). Saat itu, sebuah mobil Honda City dengan kaca gelap melaju kencang. Polisi memberikan tanda agar berhenti, tapi tak digubris.
“Lajunya malah kencang. Bahkan membahayakan petugas di lapangan. Mobil sempat menyerempet mobil lain yang sedang diperiksa petugas,” kata Hajat di kantornya, Jl Yos Sudarso, Lubuklinggau, Kamis (20/4/2017).
Polisi yang merasa curiga kemudian melakukan pengejaran dengan mobil patroli dan sepeda motor. Brigadir K yang saat itu bertugas di Bank BCA, ikut mengejar dengan menenteng senjata laras panjang jenis V2.
“Anggota kita menembak bagian ban mobil. Berhubung kondisi dalam mobil tidak stabil, jadi tidak bisa tepat sasaran. Hingga akhirnya tembakan mengenai korban,” jelas Hajat.
Setelah mobil berhenti baru diketahui bahwa isi mobil adalah satu keluarga yang hendak menghadiri pesta pernikahan di Musi Rawas. Sopir bernama Diki kabur dari razia karena tak punya SIM. Pajak mobil juga mati, sehingga menambah ketakutan Diki terhadap razia tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab akibat kejadian ini, Hajat berupaya memberikan bantuan moral dan material terhadap para korban. Selain itu, Brigadir K akan diberikan sanksi tegas karena kelalaiannya.
Penulis: Cipto/Yono

















