Suaranusantara.com- Meski pelaku pasar belum menunjukkan kekhawatiran besar terhadap langkah-langkah kebijakan Donald Trump, pasar tetap bergerak hati-hati menjelang pengumuman Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat.
Angka inflasi ini bisa menjadi katalis besar dalam menentukan arah pasar uang dan arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.
Berdasarkan pantauan dari data Bloomberg pada pukul 09.07 WIB di pasar spot, nilai tukar rupiah tercatat turun sebesar 25,5 poin atau setara dengan 0,16 persen, hingga menyentuh angka Rp 16.275,5 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS justru mengalami sedikit penguatan, naik tipis sebesar 0,02 poin menjadi 98,09.
Pada hari sebelumnya, Senin (14 Juli 2025), rupiah juga ditutup melemah sebesar 32 poin atau 0,2 persen, berada di posisi Rp 16.250 per dolar AS. Kondisi ini memperlihatkan tren berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia terhadap dolar AS juga relatif stagnan. Berdasarkan catatan dari platform Trading View, mayoritas mata uang Asia hanya mengalami pergerakan terbatas.
Hal ini dikaitkan dengan sikap investor yang cenderung wait and see menjelang publikasi data inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index/CPI), yang dianggap menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga dan dampak tarif perdagangan di bawah kepemimpinan Trump.
Analis dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menyampaikan bahwa pelaku pasar saat ini masih menanggapi retorika kebijakan tarif Trump dengan tenang. Dalam laporan risetnya, Kong menyebutkan bahwa potensi gangguan terhadap stabilitas ekonomi global akibat wacana kebijakan tersebut belum sepenuhnya dianggap serius oleh pasar keuangan dunia.
Meski begitu, Kong tetap menyoroti bahwa kemungkinan kenaikan harga barang akibat lonjakan tarif tetap menjadi risiko nyata. Jika harga-harga naik dan inflasi terdorong lebih tinggi, maka langkah bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga akan semakin terbuka, dan secara otomatis memberikan dorongan tambahan terhadap kekuatan dolar AS.
Sejumlah mata uang Asia lainnya ikut menunjukkan tekanan. Nilai tukar won Korea Selatan (USD/KRW) naik tipis sebesar 0,1 persen menjadi 1.383,70, sedangkan dolar Australia terhadap dolar AS (AUD/USD) stabil di angka 0,6547. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pasar regional yang sedang menanti arah kebijakan global dari Amerika Serikat.

















Discussion about this post