Suaranusantara.com- Kenaikan harga emas kembali terjadi pada perdagangan Rabu (25/2/2026) pagi, seiring melemahnya dolar AS dan munculnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut membuat emas kembali diminati sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Harga emas spot tercatat berada di level US$ 5.189,76 per ons troi, menguat hampir satu persen setelah sempat menyentuh posisi tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga bergerak naik ke kisaran US$ 5.207,91 per ons troi.
Pasar turut merespons kebijakan tarif impor AS yang dinilai masih berubah-ubah. Pemerintah AS diketahui mulai memberlakukan tarif sementara sebesar 10 persen untuk impor global. Namun, wacana peningkatan tarif hingga 15 persen memunculkan ketidakpastian baru, sehingga mendorong investor mencari aset aman.
Di sisi moneter, meski sejumlah pejabat bank sentral AS mengisyaratkan belum ada kebutuhan mendesak untuk mengubah kebijakan suku bunga, pasar justru memproyeksikan adanya tiga kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin sepanjang 2026. Proyeksi ini tercermin dalam perhitungan pelaku pasar yang dirangkum oleh CME Group melalui indikator FedWatch Tool.
Dari sudut pandang teknikal, pergerakan emas dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan jika mampu menembus area resistance terdekat. Apabila level tersebut terlampaui, harga emas diperkirakan berpotensi bergerak menuju rentang yang lebih tinggi dalam waktu dekat.
Selain emas, logam mulia lain juga mencatatkan penguatan. Harga perak spot melonjak lebih dari dua persen, diikuti kenaikan platinum dan paladium. Penguatan serentak ini menunjukkan minat investor terhadap komoditas logam meningkat seiring membesarnya ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

















Discussion about this post