Suaranusantara.com- Rupiah masih terpantau berada di zona merah. Pada pembukaan Rabu pagi 20 Mei 2026, Rupiah berada di angka Rp.17.738 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah terperosok dengan pelemahan sebesar 32 poin atau sekitar 0,18 persen dari penutupan sebelumnya Rp.17.706 per dolar AS.
Kembalinya rupiah ke level psikologis baru ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar keuangan domestik akibat belum redanya hantaman sentimen eksternal yang membayangi stabilitas ekonomi global.
Pelemahan yang dialami rupiah pagi ini nyatanya tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang di kawasan regional Asia juga terpantau bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah berjamaah (mixed-to-weak) akibat keperkasaan indeks dolar AS.
Mata Uang yang Melemah:Â Rupee India (INR) memimpin kejatuhan dengan koreksi 0,18 persen, disusul Ringgit Malaysia (MYR) turun 0,09 persen, Baht Thailand (THB) melemah 0,08 persen, Dolar Taiwan (TWD) susut 0,07 persen, serta Dolar Hong Kong (HKD) dan Won Korea (KRW) yang kompak tergelincir tipis 0,01 persen.
Mata Uang yang Menguat:Â Yen Jepang (JPY) mampu bertahan dengan kenaikan tipis 0,02 persen, diikuti Yuan China (CNY) dan Peso Filipina (PHP) yang merangkak naik 0,01 persen.
Mata Uang Stagnan:Â Dolar Singapura (SGD) bergerak mendatar tanpa mengalami perubahan signifikan dari posisi penutupan sebelumnya.
Di sisi lain bumi, belahan pasar keuangan Eropa juga memperlihatkan dinamika yang terpecah (mixed) pada transaksi perdagangan hari ini. Mata uang utama seperti Euro (EUR) dan Pound Sterling Inggris (GBP) tercatat menunjukkan taji dengan menguat tipis masing-masing 0,04 persen terhadap dolar AS.
Meski demikian, penguatan tersebut berbanding terbalik dengan performa sejumlah mata uang Eropa lainnya yang justru terkapar di zona merah.
Franc Swiss (CHF) dan Krona Swedia (SEK) kompak terkoreksi 0,09 persen, sementara Krona Denmark (DKK) ikut terseret turun 0,05 persen.

















Discussion about this post