Suaranusantara.com – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri.
Teddy menegaskan, kunjungan kerja luar negeri yang dilakukan Prabowo bukan sekadar untuk seremonial atau pencitraan, melainkan untuk membangun hubungan personal dan kedekatan emosional dengan para pemimpin negara lain.
“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gahahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” kata Teddy, dalam video berdurasi 6 menit 44 detik yang diunggah pada akun Instagram resmi milik Sekretaris Kabinet, dikutip Selasa (2/6/2026).
Menurut Teddy, agenda perjalanan luar negeri Presiden terdiri dari jadwal tahunan maupun kunjungan yang bersifat mendesak sesuai kebutuhan dan perkembangan situasi global. Pengaturan tersebut penting dilakukan karena dinamika dunia internasional berubah sangat cepat.
Terkait penilaian bahwa Prabowo terlalu sering melakukan kunjungan luar negeri sejak menjabat sebagai Presiden, Teddy menilai hal itu tidak dapat dilepaskan dari kondisi dunia yang sedang menghadapi berbagai krisis.
“Presiden Prabowo itu adalah presiden baru, yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis.
Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudiak sekarang ada di Iran dan Timur Tengah, itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE dan lain sebagainya,” jelasnya.
Karena itu, kata Teddy, setiap pemimpin negara perlu membangun hubungan yang erat dengan para pemimpin dunia. Hubungan tersebut akan menjadi modal penting ketika suatu saat diperlukan kerja sama atau bantuan dalam kondisi mendesak.
“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung di liput media ataupun tertutup. Nah itulah diplomasi,” pungkasnya.


















Discussion about this post