Suaranusantara.com- Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah saat ini tengah berencana membuat program pengadaan kompor listrik.
Hal ini dikarenakan pemerintah ingin mengurangi ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang dinilai sudah terlalu tinggi.
Selain itu, hadirnya kompor listrik juga sebagai transisi energi ini diharapkan mampu menekan pembengkakan devisa negara secara signifikan.
“Dan devisa kita setiap tahun keluar untuk LPG minimal Rp120 triliun, di saat ICP seperti ini, harga devisa kita keluar untuk membeli LPG itu sekitar di atas Rp130 triliun. Subsidinya di atas Rp80 triliun,” kata Bahlil Lahadalia di Kementerian ESDM, Selasa 16 Juni 2026.
Bahlil mengatakan kompor listrik yang terbaru nanti spesifikasinya jauh lebih canggih dibanding sebelumnya.
Kompor listrik versi terbaru ini mengusung sistem mutakhir yang telah disesuaikan dengan kebutuhan riil rumah tangga.
Pihak kementerian mengklaim bahwa keunggulan utama perangkat baru ini terletak pada tingkat efisiensi penggunaan daya yang lebih baik.
Tim teknis internal juga sedang menguji komparasi perbedaan positif serta kelebihan fitur kompor model baru ini dibandingkan versi lama.
“Ada model kompor listrik yang model baru. Jadi memang semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama. Nah kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru,” katanya.
Guna melancarkan program konversi energi massal tersebut, pemerintah telah menyiapkan dukungan finansial yang sangat besar.
Kementerian ESDM resmi mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp815,56 miliar untuk pengadaan kompor listrik pada tahun 2027.
Pagu anggaran fantastis tersebut nantinya akan dikelola langsung oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi.
Penyerapan dana ini ditujukan sebagai stimulus bauran energi alternatif selain gas LPG, seperti pemanfaatan kompor listrik hingga CNG.
“Kompor listrik, ini karena kita mengurangi kebutuhan LPG, kita cari bauran energi lain. Jadi energi lain kita bukan hanya LPG, ada kompor listrik, CNG, dan lain-lain itu Rp815,56 miliar,” kata Bahlil Lahadalia dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI.
Di samping fokus pada perbaikan alat masak, sektor transportasi ramah lingkungan juga ikut mendapat kucuran dana.
Otoritas turut menganggarkan dana Rp635,24 miliar untuk menyukseskan program percepatan motor listrik nasional.


















Discussion about this post