Suaranusantara.com- Usai dipecat dari kursi Koordinator Studi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun memberikan responnya terkait pemecatan dirinya oleh Rektor UNJ.
Ubedilah Badrun mengatakan bahwa pemecatan itu merupakan otoritas Rektor UNJ. Dia mengaku memahami tindakan dari rektor yang memecat dirinya dari kursi Koordinator Studi UNJ.
“Saya kira karena itu otoritas rektor, saya memahami posisi rektor yang tidak mudah dalam situasi politik sekarang,” ujar Ubedilah Badrun saat ditemui usai menggelar acara pembahasan terkait pagar laut pada Jumat 31 Januari 2025.
Ubedilah Badrun sapaannya Ubed mengatakan bahwa dirinya seharusnya menjabat posisi tersebut hingga 2027 mendatang.
“Secara peraturan sebetulnya saya masih sampai tahun 2027,” sambungnya lagi.
Ubed mengatakan rektor mempunyai otoritas terlebih setelah UNJ menjadi PTNBH, maka menjadi hak rektor untuk mengganti siapa pun sebagai Koordinator.
Ubed juga menjelaskan terkait permasalahan pemecatan, dia mengaku tidak ada masalah dan tak tahu menahu alasan kenapa bisa dipecat.
“Problemnya memang tidak ada argumen yang dijelaskan kepada saya kenapa saya diganti,” ujar pria berkacamata itu.
Lantaran tidak ada penjelasan terkait alasan pemecatan, Ubed mengatakan banyak menimbulkan interpetasi yang luar biasa sebetulnya.
Dia pun meyakini bahwa tidak mungkin tidak ada faktor penyebab yang membuat dirinya dipecat.
“Karena tidak mungkin tidak ada faktor penyebabnya,” lanjutnya.
Ubed mengaku selama bekerja sebagai Koordinator Studi UNJ, dia memiliki kinerja yang baik berdasarkan hasil penilaian akhir.
Dia bahkan meminta awak media untuk memeriksa langsung dokumen terkait kinerjanya sebagai Koordinator Studi UNJ.
Awak media mencoba mengulik lebih dalam apakah pemecatan terhadap Ubed karena adanya indikasi intervensi kekuasaan lantaran dia vokal mengkritisi pemerintah.
Ubed meyakini karena lantaran tak ada penjelasan mengapa dirinya dipecat, maka indikasi tersebut sudah sangat jelas.
“Karena tidak ada kejelasan mengapa saya diganti, maka tafsir itu sangat jelas memungkinkan adanya intervensi kekuasaan di dalam proses pergantian saya itu,” tandasnya.
Terkait langkah-langkah Ubed selanjutnya usai dipecat, dia mengaku tak mau menjadi orang yang ambisius.
“Saya nggak mau menjadi pribadi yang terlalu ambisius di dalam kekuasaan. Bahwa kekuasaan itu tidak usah untuk direbutlah biarin aja. Mereka sedang mempertontonkan kezalimannya sendiri.” Terangnya
Dengan dirinya dipecat, Ubed menganggap pemecatan itu sebagai sebuah konsekuensi yang diterima atas tindakannya.
Diakhir, Ubed menyayangkan terkait tafsir PTNBH itu yang disamakan dengan BUMN. Padahal universitas kata Ubed lembaga pendidikan bukan lembaga bisnis.

















Discussion about this post