Suaranusantara.com- Gubernur Maluku Hendrik Lewirissa angkat bicara terkait kegaduhan yang ditimbulkan ajudannya La Rahimu yang menyebut seorang mahasiswa dengan perkataan berbau rasial yakni monyet.
Hendrik mengatakan, ajudannya telah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Menurutnya, semua manusia termasuk pengawalnya bisa melakukan kekhilafan.
“Terkait aturan, sudah minta maaf. Ya, biarkan, manusia bisa khilaf. Dia sudah minta maaf,” kata Hendrik kepada wartawan saat dimintai tanggapannya di Kantor DPRD Maluku, Rabu 19 Agustus 2026.
Kata Hendrik, pihaknya mempersilakan jika ada yang merasa dirugikan untuk menempuh jalur hukum terhadap ajudannya, tapi harus sesuai ketentuan berlaku.
Kendati demikian, Hendrik sendiri telah mengambil tindakan terhadap La Rahimu.
“Terkait yang lain-lain, teman-teman media tahulah. Saya juga sudah mengambil tindakan yang saya rasa perlu untuk saya lakukan. Jadi silakan saja,” tandasnya.
Adapun kejadian tersebut bermula saat usai upacara perayaan HUT ke 81 RI pada 17 Agustus 2026 yang digelar di lapangan Merdeka, Kota Ambon.
Kejadian itu terjadi Tribun Lapangan Merdeka, Kota Ambon. Berdasarkan video yang viral di media sosial, pengawal gubernur tersebut sempat berusaha mencegat seorang mahasiswa yang hendak menemui Gubernur Maluku untuk menyampaikan surat dari masyarakat adat Desa Manusela di Pulau Seram.
Dalam video viral, pengawal tersebut sempat melontarkan kata-kata yang dinilai berbau rasial terhadap mahasiswa.
“Kau dengar ka seng (tidak), ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit,” tegas Rohim.
Mahasiswa tersebut pun langsung membalas pernyataan Rohim dengan menyebut manusia bukan monyet.
“Beta manusia Pak bukan monyet. Hargai kami menghargai dan kami hanya ingin kasih ini saja,” kata sang mahasiswa sambil menunjuk surat yang dipegang.
Alhasil, akibat pernyataannya itu sejumlah organisasi pemuda, mahasiswa dan ormas ramai-ramai mengecam tindakan pengawal pribadi gubernur tersebut.
La Rahimu mengaku khilaf dan tak ada niat untuk rasis kepada mahasiswa.
“Tidak ada maksud dari saya untuk rasial ke suku, tidak ada,” kata La Rahimu di Ambon, Selasa 18 Agustus 2026 sore.
Sebagai pengawal pribadi gubernur, ia mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas keselamatan gubernur. Oleh karena itu, ketika ada pihak yang menyerobot untuk bertemu gubernur, maka wajib dicegat sesuai prosedur.
La Rahimu pun telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, usai peristiwa itu viral di media sosial.
“Saya datang ke sini untuk berdamai, untuk menyampaikan permohonan maaf,” ucapnya.


















Discussion about this post