Kabupaten Tangerang – Menjadi salah satu lembaga ulama resmi membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tangerang memiliki tugas yang cukup berat.
Diantaranya untuk terus menjaga umat dari paham radikalisme yang belakangan ini tengah marak menyusup di tengah-tengah masyarakat.
Ketua MUI Kabupaten Tangerang, Moh Ues Nawawi Gofar menjelaskan, pihaknya terus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat menangkal paham radikalisme maupun ajaran menyimpang di masyarakat.
Salah satunya meningkatkan jalinan silaturahmi dengan melakukan koordinasi dengan MUI tingkat Kecamatan.
“Upaya yang kita lakukan dalam menangkal radikalisme dan ajaran sesat di masyarakat sudah menjadi pekerjaan baku kita, kita juga terus membina pengajian Majelis Ta’lim di Masjid. Perangkat MUI dari pusat hingga tingkat Kecamatan dan Desa terus di koordinasikan, agar dapat memantau pergerakan radikalisme dan sejenisnya,” ujarnya, Senin (17/9/2018).
Selain itu, pihaknya juga menggandeng organisasi masyarakat (ormas) islam hingga ke Dewan Masjid hingga ke Desa-Desa.
Bahkan, hingga saat ini ia memastikan penyebaran aliran atau ajaran sesat Kabupaten Tangerang masih aman dan kondusif.
“Di kita Alhamdulillah sampai hari ini tidak ada yang mengemuka dan kita sudah antisipasi sejak awal, ada beberapa tahun yang lalu tapi sekarang sudah tidak ada. Itulah kerja kita yang terus menerus lewat pengajian, silahturahmi, kemudian koordinasi kita ke tingkat secara periodik itu untuk mendapatkan laporan situasi,” ungkap dia.
Sementara itu, Ketua GP Anshor Kabupaten Tangerang, Muhidin A Kodir mengungkapkan, peran pemerintah melalui MUI dan ormas islam di masyarakat dinilai sangat penting.
Pasalnya dengan keberadaan dua pihak tersebut dapat membantu menangkal paham dan ajaran sesat di masyarakat.
“Tentu sangat penting, karena tanpa adanya pemerintah dan ormas islam untuk memberikan pemahaman dan mencegah paham di luar yang selama ini kita terima bisa bahaya kondisi masyarakat kita. Artinya sinergitas antar lembaga ini sangat penting untuk mencegah paham negatif tersebut,” ungkap dia.
Muhidin berharap, baik masyarakat maupun anggota GP Anshor agar lebih lagi berhati-hati dalam menerima informasi yang telah beredar.
Selain itu, Muhidin juga meminta, bilamana masyarakat mendapatkan informasi yang diragukannya agar tidak menyebar luaskan ke masyarakat lain.
“Masyarakat harus mengkroscek ketika mendapatkan informasi yang tidak jelas sumbernya, dan cukup guru-guru ngaji mereka menjadi panutan karena mereka yang mengajarkan ngaji kita, sehingga kita bisa membaca Al-Qur’an. Seumpama ada isu atau informasi yang tidak jelas masyarakat harus lebih baik bertanya kepada pihak terkait,” tandasnya. (yogi/nji)

















