Suaranusantara.com – Jakarta merupakan salah satu kota penyokong ekonomi terbesar di Indonesia. Namun, tidak semua warganya dapat menikmati akses atas air dengan mudah dan murah.
Salah satu contoh ialah masyarakat Muara Baru dan Kampung Susun Bayam (KSB), Jakarta Utara.
Pendamping warga Muara Baru dari Koalisi Rakyat Untuk Hak atas Air (Kruha), Sigit mengatakan warga Muara Baru tidak dapat mengakses air dari pipa-pipa utama yang disediakan oleh pemerintah. Akibatnya mereka harus menggunakan mekanisme alternatif seperti Master Meter.
“Master Meter itu bentuk dari komersialisasi tingkat lanjut, dari komersialisasi dari privatisasi yang sudah berlangsung dalam kurun waktu belasan tahun bahkan puluhan tahun. Mereka diharusnya memakai atau mendapatkan akses yang namanya Master Meter, harganya itu berkali-kali lipat dari harga normal warga kalangan miskin. Artinya warga miskin itu justru membayar air jauh lebih mahal dibandingkan warga yang kelasnya biasa, kalangan kelas menengah bahkan kalangan kaya. Itu ironisnya disitu,” kata Sigit dalam konfrensi pers Hari Air Sedunia, Jumat (22/3/2024).
Sementara, Ketua Kelompok Tani Kampung Bayam Madani, Muhammad Furqon mengatakan kurang lebih satu tahun warga yang tinggal di KSB menggunakan air sulingan dari sumur atauput got.
“Terpaksa kami gunakan air seadanya ini, sebab air dan listrik yang disediakan digedung KSB ini di putus oleh PT Jakarta Propertindo (JakPro),” katanya.
Menurut Furqon, PT JakPro menganggap warga ilegal tinggal di KSB.
“Padahal kami sudah memegang SK Penempatan Unit masing-masing,” tutupnya.


















Discussion about this post