Suaranudantara.com- DPR RI menyatakan bahwa keponakan Presiden RI Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2030.
Thomas Djiwandono terpilih sebagai Deputi Gubernur BI setelah sebelumnya melakukan fit and proper test oleh DPR RI yang berlangsung pada Sabtu 24 Januari 2026.
Thomas diketahui menggantikan posisi pejabat sebelumnya, yakni Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026 lalu.
Terpilihnya Thomas sebagai Deputi Gubernur disampaikan langsung oleh Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-12 masa persidangan III tahun sidang 2025-2026 di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Senin 26 Januari 2026.
Sebelumnya, Thomas diketahui merupakan Anggota Kabinet Merah Putih dengan menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu).
“Dalam rapat internal tersebut, telah dicapai kesepakatan bahwa Deputi Gubernur BI pengganti Bapak Juda Agung adalah Bapak Thomas Djiwandono,” ujar Misbakhun setelah rapat internal di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
Komisi XI DPR RI sebelumnya melakukan fit and proper test terhadap tiga kandidat Deputi Gubernur BI.
Ketiga kandidat tersebut antara lain: Solikin M. Juhro, Dicky Kartikoyono, dan Thomas Djiwandono.
Dalam rapat internal, Komisi XI sepakat memutuskan untuk memilih Thomas Djiwandono yang lolos dalam tahap fit and proper test.
Kemudian, Komisi XI membawa hasil keputusan tersebut dalam Sidang Paripurna DPR RI untuk dimintai persetujuan seluruh Anggota DPR RI.
Pada akhirnya, seluruh peserta sidang menyetujui bahwa keponakan Presiden Prabowo tersebut menjadi Deputi Gubernur BI baru.
Ketua Komisi XI Muhammad Misbakhun mengatakan, alasan penunjukkan itu dilakukan lantaran Thomas dinilai menjadi figur yang dapat diterima oleh seluruh fraksi partai politik.
Selain itu, kata dia, Thomas juga telah menjelaskan dengan baik saat proses uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di hadapan Komisi X mengenai sinergi antara kebijakan moneter dengan fiskal.
“Menurut saya, memang itu isu yang sedang kuat saat ini. Bagaimana membangun sinergi yang saling menguatkan antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal,” ujar Misbakhun.
Visi dan Misi Thomas
Dalam paparan visi dan misinya, Thomas menjelaskan konsep strategi yang terdiri dari lima strategi tematik bertajuk ‘GERAK’.
Kelima strategi tersebut ialah pertama, Governance, yakni kebijakan yang kuat dan kredibel. Kedua, Efektivitas kebijakan.
Ketiga, Resiliensi sistem keuangan. Keempat, Akselerasi sinergi fiskal dan moneter keuangan. Kelima, Keberlanjutan transformasi keuangan.
“Governance merupakan pondasi. Dalam hal tata kelola kita mengenal regulasi terkait independensi BI yang ada dalam aturan sejak 1999,” papar Thomas.
Menurut dia, strategi tersebut dapat membangun sekaligus mendukung ekonomi berkelanjutan secara adaptif dan dapat melaju kencang.
Kemudian, sinergi dalam hal itu merujuk pada sinergi kebijakan antara otoritas fiskal dan otoritas moneter, serta otoritas keuangan lain dapat membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi ke depan.
“Pengelola kebijakan saat ini harus bersinergi. pertumbuhan ekonomi yang sudah dicanangkan oleh kita semua dan dimulai di komisi XI ini merupakan jalan agar indonesia bisa maju,” tegas Thomas.
Kendati demikian, dia menegaskan tema-tema dalam strategi tersebut terdapat di dalam ruang lingkup yang tetap mempertahankan independensi BI saat proses menjalankan kebijakan.
Intinya, tetap berhati-hati dan terukur dalam menjalankan mandatnya.
Pada dasarnya, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi yang tinggi sesuai target pemerintah harus dicapai secara inklusif dan berkelanjutan.
Caranya adalah semua mesin pertumbuhan harus bergerak bersama, yakni fiskal moneter, sektor keuangan dan iklim investasi.
Hal itu pada akhirnya membantu semua sektor lain yang bernilai tambah dan mempunyai dampak berlapis atau multiplier tinggi, juga sektor resilient dan padat karya untuk tumbuh selaras.

















Discussion about this post