Suaranusantara.com- Harga emas di pasar internasional berbalik melemah pada perdagangan Selasa (24/2/2026) pagi, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan di awal sesi.
Tekanan utama datang dari penguatan mata uang dolar Amerika Serikat yang mengurangi daya tarik logam mulia bagi investor non-dolar, di tengah pasar yang masih dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan dan tensi geopolitik.
Pada saat laporan ini disusun, harga emas spot turun sekitar 0,85 persen dan bergerak di kisaran US$ 5.185,37 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April turut melemah sekitar 0,4 persen ke area US$ 5.204,91 per ons troi. Koreksi ini terjadi tak lama setelah emas menyentuh level tertingginya dalam lebih dari tiga pekan.
Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan jangka pendek. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana pergerakan nilai tukar masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga logam mulia di pasar global.
Dari sisi kebijakan, pernyataan Presiden Donald Trump ikut memengaruhi sentimen pasar. Ia memperingatkan mitra dagang agar tidak membatalkan kesepakatan yang baru saja dirundingkan dengan Amerika Serikat. Peringatan itu muncul setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif darurat yang sebelumnya diberlakukan, sekaligus menegaskan bahwa negara yang mundur dari kesepakatan berpotensi menghadapi tarif yang lebih tinggi melalui payung hukum lain.
Dari bank sentral, sinyal kebijakan moneter juga turut memengaruhi arah pasar. Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menyatakan masih membuka peluang mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Maret mendatang. Keputusan tersebut, menurutnya, akan sangat bergantung pada data ketenagakerjaan Februari, apakah pasar tenaga kerja benar-benar menunjukkan pemulihan setelah melemah sepanjang 2025.
Ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS sendiri masih mengarah pada pelonggaran kebijakan secara bertahap. Pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga dapat terjadi beberapa kali sepanjang tahun ini, yang pada gilirannya bisa kembali menjadi katalis positif bagi aset lindung nilai seperti emas jika realisasinya berjalan sesuai proyeksi.
Sentimen global juga belum sepenuhnya kondusif. Pergerakan bursa saham Asia yang cenderung fluktuatif mengikuti tekanan jual di Wall Street membuat minat risiko investor menurun. Ketidakpastian arah kebijakan tarif AS serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut menjaga pasar dalam suasana waspada.
Situasi geopolitik kian diperhatikan setelah Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menarik staf non-esensial beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon. Langkah ini menambah daftar faktor risiko yang terus membayangi pasar keuangan global.
Tak hanya emas, sejumlah logam mulia lain juga bergerak bervariasi. Harga perak spot terkoreksi tajam setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dua pekan. Platinum turut mengalami penurunan, sementara paladium justru mencatatkan penguatan tipis di tengah volatilitas pasar komoditas.


















Discussion about this post