Suaranusantara.com – Penyanyi kenamaan Celine Dion baru-baru ini memberikan pengumuman mengenai penundaan tur konsernya karena menderita sindrom langka yang dikenal dengan nama Stiff Person Syndrome (SPS).
Sindrom ini menyerang sistem saraf dan menyebabkan pengidapnya mengalami kejang otot dan menurunnya kepekaan terhadap sentuhan.
Hingga saat ini, penyebab pasti SPS masih menjadi fokus penelitian para ahli. Namun, dugaan kuat adalah bahwa penyakit saraf ini berhubungan dengan gangguan autoimun. Pada kondisi autoimun, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan benda asing justru menyerang sel-sel tubuh yang sehat.
Dikutip dari Yale Medicine, SPS terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang protein tertentu yang disebut dekarboksilase asam glutamat (GAD). Protein ini bertanggung jawab untuk memproduksi zat yang bernama asam gamma-aminobutirat (GABA). GABA berperan dalam mengatur gerakan saraf dengan mengurangi aktivitas saraf.
Dalam kasus SPS, jumlah GABA menjadi rendah, sehingga menyebabkan saraf-saraf menjadi terus aktif. Hal ini kemungkinan menyebabkan kejang otot yang menjadi salah satu gejala utama sindrom ini. Lebih dari 60 persen pengidap SPS diketahui memiliki sel anti-GAD dalam darah dan cairan serebrospinal, cairan yang mengelilingi otak.
Selain rendahnya jumlah GABA, banyak pengidap SPS juga didiagnosis mengidap penyakit autoimun lainnya, seperti diabetes tipe 1, vitiligo, dan anemia pernisiosa. Mereka juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker. Meski begitu, semua dugaan ini masih dalam tahap penelitian yang lebih mendalam.
Sindrom Stiff Person Syndrome merupakan penyakit langka yang mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penundaan tur Celine Dion menjadi pengingat akan pentingnya pemahaman lebih lanjut tentang kondisi langka ini dan upaya penelitian untuk menemukan cara pengobatan dan penanganan yang lebih efektif. (Kml)


















Discussion about this post