Suaranusantara.com- Kanker usus besar biasanya identik dengan orang-orang berusia lanjut. Namun, kanker usus tak lagi pandang bulu, kaum gen z pun bisa terkena penyakit kolerektal.
Di Indonesia, banyak kaum gen z yang terkena kanker usus besar. Hal ini diungkap langsung oleh Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr R Soeko Werdi Nindito D, MARS, mengatakan perubahan pola pasien kanker memang sedang terjadi.
Terkait apa penyebabnya kanker usus besar dialami kaum gen z, itu harus dilakukan penelitian lebih dulu. Tak cuma kanker usus besar melainkan semuanya harus diteliti lebih dulu apa penyebab pastinya.
Namun, kemungkinan penyebab kanker usus besar lantaran pola makan dan gaya hidup.
“Untuk kanker usus besar, pola makan dan gaya hidup menjadi perhatian utama,” sorot dr Soeko saat ditemui dilansir Selasa 3 Februari 2026.
Ia menegaskan, kanker bukan penyakit dengan satu penyebab tunggal. Berbeda misalnya dengan kanker serviks yang jelas disebabkan virus HPV, pada kanker usus besar faktor pemicunya lebih kompleks.
Misal pola makan rendah serat, tinggi gula, konsumsi makanan olahan, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, hingga obesitas diduga berperan besar.
Gaya hidup generasi muda saat ini dinilai sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Generasi muda sekarang lebih cenderung mengkonsumsi makanan dan minuman manis terlalu sering.
Bahkan, makanan cepat saji menjadi yang paling utama dalam memenuhi kebutuhan energi bagi generasi muda.
Selain itu, pola istirahat yang kurang teratur hingga jarang sekali berolahraga. Generasi muda sekarang lebib cenderung menghabiskan waktu dengan gawai.
Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu terjebak pada pertanyaan apa penyebab pastinya.
Menurutnya, langkah yang jauh lebih penting adalah memperkuat upaya promotif dan preventif.
“Jangan pusing soal mencari satu penyebab. Dalam kanker ada tujuh program promotif dan preventif yang perlu dipromosikan ke masyarakat,” kata dia.
Terapkan pola hidup sehat itu menjadi kunci utaman pencegahan kanker. Selain menjalani pola hidup sehat, tidak merokok, membatasi gula, harus juga mulai memedulikan deteksi dini.
“Pola hidup sehat, jangan merokok, jangan konsumsi gula berlebihan. Yang kedua deteksi dini. Kalau sudah merasa tidak enak, ada cek kesehatan gratis, di situ ada kemungkinan deteksi kanker tahap awal,” lanjutnya.
Keluhan seperti perubahan pola buang air besar, BAB berdarah, perut kembung yang menetap, atau berat badan turun tanpa sebab jelas sebaiknya tidak diabaikan.
dr Soeko juga menyoroti pentingnya kemampuan deteksi dini di layanan kesehatan primer, seperti puskesmas, agar kasus kanker bisa dikenali lebih awal sebelum dirujuk ke rumah sakit rujukan.
Menurutnya, banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena terlambat memeriksakan diri. Padahal, jika ditemukan lebih awal, peluang penanganan jauh lebih baik.
“Kalau masyarakat lebih aware dan rutin cek kesehatan, sangat mungkin kanker ditemukan di tahap awal, bahkan di daerah,” tutup dr Soeko.


















Discussion about this post