Suaranusantara.com- Kanker payudara, kini menjadi salah satu penyakit mematikan di urutan kedua setelah jantung. Mirisnya, penyakit ini malah banyak diderita oleh wanita muda.
Padahal, penyakit kanker payudara, dahulu banyak diderita oleh wanita-wanita berusia 50 tahun ke atas. Namun, penyakit mematikan ini bergeser ke wanita muda dengan rentan usia 19-40 tahun.
Dahulu kanker payudara menjadi penyakit yang disebabkan oleh faktor keturunan. Namun, penyakit itu kini bukan lagi berdasarkan faktor keturunan.
Dokter ahli bedah kanker payudara, dr Rachmawati, SpB(K)Onk, menjelaskan bahwa yang menjadi faktor penyebab kanker payudara dialami wanita muda yakni stres
“Salah satu pemicunya adalah stres, bagaimana management stresnya. Contohnya seperti tekanan pekerjaan, atau masalah keluarga,” tuturnya, dikutip Senin 31 Agustus 2026.
Ia menjelaskan jika seseorang sedang mengalami stres maka otomatis daya imun tubuh menurun, dan saat imunitas tubub drop maka seseorang akan berisiko tinggi terserang banyak penyakit, termasuk kanker payudara.
Gaya hidup berperan nyaris 90 persen dalam sebagai penyebab kanker payudara, sisanya baru riwayat genetik. Tidak memiliki riwayat genetika juga belum tentu sepenuhnya terbebas dari risiko terkena kanker payudara.
Hala senada juga disampaikan Dokter spesialis bedah payudara Singapura, Dr Lim Sue Zann dari Solis Breast Care & Surgery Centre Singapura, faktor penyebab kanker payudara dialami wanita muda dikarenakan tingkat stres yang tinggi.
“Sekarang banyak usia 30-an, di bawah 40 bahkan. Pasien termuda saya 19 tahun, tidak ada family history. Tapi memang sekarang banyak ditemukan. Tingkat stres tinggi bisa jadi pemicu. Kenapa? Karena stres memicu inflamasi pada tubuh,” kata Lim, Senin 31 Agustus 2026.
Dikutip dari jurnal Enviromental Research and Public Health, meski kanker tidak secara langsung berkaitan, stres kronis bisa memicu peradangan yang membuat kerja tubuh menjadi tidak normal.
Kondisi stres berkepanjangan ini mendorong pelepasan hormon stres (seperti kortisol dan norepinefrin) secara terus-menerus.
Pelepasan hormon ini merangsang pelepasan sitokin pro-inflamasi, yang memicu inflamasi kronis tingkat rendah (chronic low-grade inflammation) di dalam tubuh.
Peradangan kronis inilah yang kemudian merusak DNA sel, menurunkan sistem pengawasan imun (immunosurveillance), serta mengubah mikrolingkungan jaringan tubuh menjadi kondisi ideal bagi sel mutasi untuk berkembang berkembang menjadi tumor atau kanker.
Kanker payudara, biasanya ditandai perubahan dengan munculnya benjolan di payudara. Menurut Lim perubahan atau benjolan pada payudaranya, hal itu wajar jika memicu kekhawatiran.
Namun, perlu diketahui, benjolan tersebut merupakan temuan fisik dan bukan diagnosis pasti kanker. Sebagian besar benjolan bersifat jinak, seperti kista, fibroadenoma, atau perubahan fibrokistik.
Untuk memastikan karakteristiknya, rabaan fisik saja tidak cukup sehingga diperlukan pemeriksaan pencitraan (imaging) seperti USG atau mamografi. Jika hasil imaging mencurigakan, tindakan biopsi akan direkomendasikan untuk mendapatkan diagnosis jaringan.
“Deteksi dini bukan cuma menyelamatkan nyawa, tapi juga menyelamatkan payudara,” tegas Lim.


















Discussion about this post