Suaranusantara.com – Dua petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak rencana Presiden Prabowo Subianto yang hendak mengevakuasi 1.000 warga Gaza Palestina ke Indonesia.
Mereka adalah Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI, Anwar Abbas, dan Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhwah, KH Cholil Nafis.
Anwar Abbas, mempertanyakan urgensi Indonesia dalam menjalankan rencana tersebut.
Sebab, menurut dia, rencana itu selaras dengan kepentingan Israel dan proposal relokasi yang sempat disuarakan oleh Presiden AS, Donald Trump.
“Pertanyaannya, untuk apa Indonesia ikut-ikutan mendukung rencana Israel dan Amerika? Bukankah mereka sudah menyampaikan keinginannya untuk mengosongkan Gaza?” kata Anwar Abbas dalam keterangan tertulisnya.
Anwar Abbas menilai jika rencana ini terlaksana, maka Israel akan lebih leluasa menempatkan warganya di wilayah Gaza.
“Yerusalem dulu milik Palestina, sekarang sudah diduduki dan dijadikan ibu kota Israel. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya.
Sementara, KH Cholil Nafis, mengatakan akar permasalahan konflik ini bukan terletak pada kondisi warga Gaza, melainkan pada agresi militer Israel yang terus melanggar hukum internasional.
“Masalahnya bukan warga Gaza, tapi Israel yang menyerang dan tak patuh perjanjian. Maka yang harus dihentikan adalah agresi Israel, bukan mengevakuasi rakyat Palestina dari negerinya sendiri,” kata Cholil Nafis melalui akun media sosial resminya.
Rais Syuriah PBNU itu menekankan pentingnya upaya perdamaian dan pengobatan korban di lokasi terdekat, bukan dengan memindahkan mereka ke tempat yang jauh seperti Indonesia.
“Apa ada jaminan mereka bisa kembali ke Gaza? Bukankah banyak warga Palestina di luar sana yang sampai sekarang tak bisa pulang? Ini justru bisa memuluskan Israel untuk menduduki lebih banyak tanah Palestina,” ujarnya.
“Sebagai muslim dan manusia, kita tentu simpati dan empati kepada warga Palestina. Tapi caranya bukan dengan menjauhkan mereka dari tanah kelahiran mereka,” tambah KH Cholil Nafis.


















Discussion about this post