Suaranusantara.com- Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan tengah menggodok terkait rencana penulisan ulang sejarah Indonesia. Langkah ini diambil lantaran untuk memberikan nuansa (tone) positif dalam penulisan sejarah Indonesia demi menghindari perpecahan dan mempererat persatuan bangsa.
Menurut Fadli, penulisan sejarah menjadi tak lagi penting manakala hanya memicu perpecahan bangsa.
Rencana penulisan ulang sejarah itu semakin menuai penolakan menyusul penayangan video wawancara “Real Talk: Debat Panas!! Fadli Zon vs Uni Lubis soal Revisi Buku Sejarah” yang tayang di kanal YouTube IDN Times pada 10 Juni 2025.
Politikus PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto atau akrab disapa Bambang Pacul pun angkat bicara terkait rencana Fadli Zon yang akan menulis ulang sejarah.
Dalam penulisan sejarah ulang, Bambang Pacul selaku Ketua DPP PDI Perjuangan mengingatkan terkait tragedi pemerkosaan massal pada 1998 yang diakui oleh Presiden ke 3 RI BJ Habibie.
“Bagaimana sikap PDI Perjuangan? PDI Perjuangan juga akan menulis sejarah,” kata Bambang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dilansir Rabu 18 Juni 2025
Kata Bambang, dalam penulisan setiap versi sejarah akan dipengaruhi subjektivitas penulisnya, termasuk pilihan fakta yang diangkat atau diabaikan.
“Soal penulisan sejarah, ini kan subjektivitas pasti ikut campur, 100 persen ikut campur subjektivitas, kan begitu. Jadi siapa pun yang akan menulis pasti akan ada kontranya,” kata Pacul di kompleks parlemen.
Terkait tragedi 1998, Bambang meminta Fadli Zon untuk merujuk dokumen resmi termasuk pernyataan Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie yang mengakui bahwa telah terjadi pemerkosaan massal di masa itu.
Apabila hanya berkeyakinan pada pedoman penulis, maka kata Bambang, penulisan sejarah bisa menyesatkan dan menjadi alat pembenaran.
Menurutnya, daripada saling menyangkal, maka PDI Perjuangan akan mengambil langkah untuk siap menulis sejarah sendiri, versi sendiri, lengkap dengan fakta yang dimiliki.
Maka sikap PDIP juga akan menulis ulang sejarah versi kami,” tuturnya.
Hal itu dilakukan agar tidak terjadi senggol-senggolan dengan ayat fakta.
“Nanti kan ditabrakkan dengan ayat fakta, kita kan susah hari ini kalau kita hanya ngotot-ngototan tok, kan gitu loh,” ucap Bambang.
Terkait Fadli Zon yang ingin menulis kembali dengan cara berbeda, Bambang pun mempersilakan.
“Bahwa subjektivitas Pak Pak Fadli Zon mau mengambil cara yang berbeda, ya dipersilahkan, nanti kan ditabrakkan dengan ayat fakta,” kata Pacul.


















Discussion about this post