Suaranusantara.com- Tiga provinsi di Indonesia tengah berduka lantaran diterjang bencana alam banjir hingga tanah longsor yang terjadi di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar) dan Aceh.
Bencana alam ini secara keseluruhan dari tiga provinai telah merenggut sebanyak 604 korban jiwa. Korban berjatuhan masih akan terus berjatuhan. Sebab, masih ada ratusan orang hilang dan dalam pencarian.
DPR RI pun menyoroti banjir Sumatera-Aceh yang menurutnya anomali atau ada penyimpangan. Mengingat hujan terjadi selama satu bulan dan bencana itu terjadi satu hari dengan menerjang tiga provinsi itu.
Adapun DPR RI melalui Komisi V menyampaikan itu saat rapat dengan pendapat (RDP) pada Senin 1 Desember 2025 bersama Basarnas hingga BMKG.
“Paling tidak Basarnas bisa menyampaikan sejauh mana upaya operasi pencarian yang dilakukan, terutama untuk 300 lebih korban yang masih belum ditemukan sampai hari ini. Demikian juga BMKG nanti juga turun disampaikan Pak ya. Ini fenomena apa ini?” kata Ketua Komisi V Lasarus dalam dalam rapat di DPR, Senin 1 Desember 2024.
Menurutnya, Indonesia kerap dilanda banjir dan tanah longsor. Tapi bencana yang menerjang Sumatera-Aceh seperti anomali.
“Sering Pak kita mengalami banjir, tanah longsor. Tapi, menurut saya kejadian kali ini di Aceh, kemudian di Sumut, dan di Sumatera Barat ini menurut saya ini anomali Pak,” kata Lasarus.
Anomali banjir Sumatera-Aceh, Lasarus menyoroti jumlah korban yang masif dari bencana tersebut.
“Anomali masuk kategori kejadian yang luar biasa, dengan korban 700 hampir 800 orang yang meninggal plus yang masih hilang, sampai hari ini,” sambungnya.
Politikus PDIP ini meminta penjelasan kepada BMKG soal fenomena bencana di utara Pulau Sumatera. Di momen ini Lasarus dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sempat berdiskusi soal hujan sebulan yang turun dalam waktu satu hari di bencana Sumatera.
“Demikian juga BMKG Pak, kami minta informasi terkini. Saya yakin Pak, masyarakat pasti tidak monitor ini bahwa ada siklon tropis yang terperangkap di apa namanya di atas Sumatera ini sehingga hujan tumpah di situ semua. Tadi Kepala BMKG sempat menyampaikan kepada saya, itu hujan untuk satu tahun Pak ya?” tanya Lasarus.
“Satu bulan,” jawab Teuku.
“Hujan untuk satu bulan hanya tumpah dalam satu hari. Jadi volume hujan satu bulan tumpah dalam satu hari. Nah ini kan juga fenomena yang harusnya, apakah teknologi kita, peralatan kita sudah bisa mendeteksi ini sehingga masyarakat ada kewaspadaan,” kata Lasarus.
Ia meminta Basarnas dan BMKG tak hanya memberikan informasi kepada masyarakat. Lasarus mengatakan semestinya dua lembaga ini bisa mengantisipasi sebelum kejadian semakin parah.
“Namanya penanggulangan ini harusnya bukan hanya menanggulangi setelah terjadi bencana Pak, harusnya juga teman-teman di sana bekerja, melakukan pekerjaan bagaimana supaya bencana itu tidak terjadi di lokasi itu,” kata Lasarus.
“Ditanggulangi lebih dini gitu lah, antisipasi, ya mengantisipasi dini ini juga bagian dari menanggulangi Pak sebelum terjadi bencana,” imbuhnya.
Teuku kemudian menerangkan soal hujan ekstrem yang melanda sejak 25-27 November. Dia mengatakan volume curah hujan yang turun sama dengan hujan bulanan yang tumpah dalam satu hari.
“Tertangkap curah hujan pada 25 November, 26 November, hingga 27 November itu sampai hitam warnanya, itu sangat ekstrem. Bahkan tertinggi ada yang 411 mm per hari di Kabupaten Bireuen. Ini bahkan lebih tinggi dari hujan bulanan di sana, mungkin 1,5 bulan ya,” ujarnya.
“Jadi ini tumpah dalam satu hari dan bayangkan itu terjadi selama 3 hari. Nah ini yang menyebabkan bencana hidrometeorologi memang sangat masif terjadi karena tanah kemudian tidak mampu atau lahan tidak mampu dalam menahan tumpahan air hujan yang demikian banyak hingga terjadilah banjir bandang, longsor, dan banjir ya,” sambungnya.
Dia juga menyampaikan hujan yang terjadi di wilayah Sumut. Berdasarkan catatan BMKG, volume hujan di Langkat 390 mm per hari.
“Kemudian ini di Sumatera Barat. Jadi yang memang kata kuncinya adalah siklon tropis ini bukan bencana yang lazim terjadi di daerah tropis, tapi inilah kejadian yang kita hadapi sekarang. Sehingga tadi dalam rakor di Kemendagri, kami bersama Kepala BNPB dan Basarnas itu mendapat arahan, bahwa sudah saatnya Indonesia juga bersiaga terhadap bencana siklon tropis, tidak hanya bencana-bencana hidrometeorologi yang selama ini kita kenal,” jelasnya.
Dia juga mengatakan adanya ancaman bibit siklon di perairan selatan Indonesia pada priode November hingga Februari. Wilayah yang perlu waspada yakni Bengkulu, Sumatera bagian selatan, selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua Tengah dan Papua Selatan.
“Ini adalah daerah-daerah yang rawan terjadinya bibit siklon yang dapat berkembang menjadi siklon tropis. Tentunya akan ada ancaman curah hujan tinggi, bencana hidrometeorologi, dan juga gelombang tinggi,” ucapnya.


















Discussion about this post