Suaranusatara.com- Ditemukannya ribuan kayu gelondongan yang ikut terbawa arus banjir Sumatera-Aceh, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) akan mengusut tuntas dari mana sumber kayu-kayu itu berasal.
Adapun banjir dalam beberapa hari lalu menerjang tiga provinsi di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar) dan Aceh tak hanya air saja melainkan kayu gelondongan juga ikut membanjiri wilayah-wilayah tersebut.
Muncul ribuan kayu gelondongan yang ikut terbawa arus banjir, menimbulkan dugaan bahwa itu hasil illegal logging atau penebangan liar.
Satgas PKH bakal mengecek fakta, mengusut asal-muasal kayu gelondongan itu.
“Yang jelas nantikan fakta-fakta di media akan didalami. Apakah itu memang bencana alam atau seperti apa,” kata Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna, kepada wartawan, Selasa 2 Desember 2025.
Adapun Satgas PKH terdiri dari aparat penegak hukum di antaranya TNI, Polri, Kejagung, hingga Kementerian Kehutanan. Anang menjamin aparat penegak hukum akan mengambil tindakan jika ada unsur pelanggaran terkait kayu-kayu gelondongan itu.
“Kalau memang ada perbuatan manusia, ketika nanti ada di situ ada unsur kesengajaan, pastinya penegak hukum ke depan akan mengambil tindakan hukum,” tegas Anang.
Sebelumnya, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menduga kayu gelondongan itu berasal dari pemegang hak atas tanah (PHAT) yang berada di area penggunaan lain (APL). Dia mengatakan, dugaan sementara, kayu tersebut bekas tebangan yang sudah lapuk hingga terbawa arus banjir.
“Kita deteksi bahwa itu dari PHAT di APL. PHAT adalah pemegang hak atas tanah. Di area penebangan yang kita deteksi dari PHAT itu di APL, memang secara mekanisme untuk kayu-kayu yang tumbuh alami itu mengikuti regulasi Kehutanan, dalam hal ini adalah SIPPUH, Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan,” kata Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut Dwi Januanto Nugroho, dilansir Antara, Sabtu 29 November 2025.
Meski demikian,Dwi mengatakan pihaknya tak dapat mengesampingkan potensi kayu tersebut berasal dari praktik ilegal. Kayu gelondongan itu sendiri kini berserakan di permukiman warga hingga pantai.


















Discussion about this post