Suaranusantara.com- Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi dinilai mengubah pola ancaman keamanan yang dihadapi saat ini. Ancaman tidak lagi selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali, tetapi dapat berkembang secara perlahan melalui berbagai ruang interaksi masyarakat.
Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Dedi Prasetyo mengatakan ancaman masa kini dapat tumbuh lewat ruang digital, interaksi sosial, budaya visual hingga paparan informasi yang terus berulang dan memengaruhi pola pikir seseorang.
Dalam keterangannya yang dikutip Kamis (21/5/2026), Dedi menilai pola ancaman saat ini berkembang lebih cepat dibanding pendekatan penanganan yang selama ini digunakan.
“Ancaman saat ini bergerak lebih cepat dibanding pola penanganan lama. Karena itu, kita perlu membangun kemampuan membaca gejala lebih awal, memperkuat pencegahan, dan meningkatkan ketahanan masyarakat,” ujar Dedi.
Ia menjelaskan, ekstremisme modern kini memiliki karakter yang lebih dinamis dan tidak selalu terikat pada struktur formal tertentu. Menurutnya, pola penyebaran juga banyak berkembang melalui jaringan digital yang sulit dideteksi menggunakan pendekatan konvensional.
Karena itu, Dedi menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini melalui berbagai aspek, mulai dari peningkatan literasi digital hingga penguatan lingkungan sosial.
Ia menyebut strategi pencegahan jangka panjang perlu melibatkan perlindungan anak, penguatan peran sekolah dan keluarga, serta kolaborasi lintas sektor.
Di sisi lain, Dedi menegaskan kehadiran negara tidak seharusnya menunggu ketika ancaman sudah berkembang besar.
“Pencegahan harus datang lebih awal, sementara penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang dilakukan secara terukur,” ucap Dedi.

















Discussion about this post