
Semarang-SuaraNusantara
Menpora Imam Nahrawi mengakui para pemain Timnas Indonesia U-22 di bawah asuhan pelatih asal Spanyol Luis Milla memiliki prospek bagus. Menurutnya memang capaian Timnas U-22 di ajang Sea Games 2017 belum sesuai harapan, tetapi harus diakui ada progres bagus yang diraih dibandingkan dengan perhelatan serupa sebelumnya.
“Seperti yang kita lihat bersama Timnas U-22 ada progres bagus, SEA Games yang lalu tidak dapat medali, sekarang dapat perunggu,” ucap Menpora usai hadir menyaksikan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menjadi narasumber dalam Stadium General di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/8/2017).
Adapun mengenai masa depan pelatih asal Spanyol itu menjadi kewenangan PSSI, ada perangkat tersendiri yang menilai dan ada parameter-parameter yang dijadikan alat ukur lanjut tidaknya seorang pelatih. “Kalau masalah masa depan Luis Milla bisa tanya ke PSSI,” pungkasnya.
Pada Orasi ilmiah di Kampus Orange tersebut dibuka oleh Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama serta jajaran akademisi senior lainnya. Hadir pula Menristekdikti M Nasir, Menaker Hanif Dhakiri, Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo dan Rektor Yos Johan Utama, Para Warek, Dekan FISIP Sunarto, Sekjen PB NU Hilmy Faishal Zaini, Sekjen PKB sekaligus Ketua Fraksi MPR Abdul Kadir Karding, Ketua Fraksi PKB DPR Ida Fauziah, Stafsus Bidang Kepemudaan Zainul Munasichin, dan civitas akademika lebih dari 500 orang.
Sementara Cak Imin di hadapan para mahasiswa, politisi yang akrab disapa Cak Imin ini menyampaikan materi bertajuk “Membumikan Pancasila dan Islam Rahmatan lil Alamin Dalam Sistem dan Lanskap Politik Nasional dan Daerah”.Cak Imin mengemukakan analisisnya mengenai sejumlah persoalan faktual yang tengah dialami bangsa, mulai dari kecenderungan mengerasnya pemahaman agama yang dangkal, kemiskinan, ketidakadilan dan beragam masalah lainnya. Ia juga mengangkat kembali perdebatan klasik soal Islam dan politik. Menurutnya, jika merunut jejak sejarah nusantara dan dunia, Islam dan politik mustahil dipisahkan.
Ia menuturkan, sejak kelahirannya, gerakan Islam merupakan entitas yang menjadi bagian dari kekuasaan politik, atau dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan yang telah ada. Kompromi, persuasi, koalisi, oposisi, konsensus bahkan perang, sudah menjadi bagian integral dalam perkembangan Islam.“Islam politik janganlah dimaknai sebagai hal yang negatif. Islam politik sama sekali tidak identik dengan fundamentalisme,” jelasnya.
Kontributor: Eka

















