
Nias-SuaraNusantara
Diperkirakan dalam kurun waktu puluhan tahun ke depan, durian Nias terancam tinggal kenangan. Salah satu faktor penyebab punahnya buah durian Nias yang manis dan lezat adalah kebiasaan masyarakat yang sering menebang pohon durian untuk diolah menjadi papan dan kayu reng. Sementara pada saat bersamaan, belum ada kesadaran masyarakat untuk melestarikan dan peremajaan pohon durian.
Di sekitaran Kecamatan Gido Kabupaten Nias, kontributor SNC singgah di sebuah panglon yang biasa menjual kayu olahan. Pemilik panglon mengaku jika ia dapat menjual kayu olahan dari pohon durian puluhan kubik per bulan.
Menurutnya, selain karena pohon durian masih mudah didapat untuk diolah dibanding jenis kayu olahan lain, masalah harga juga masih terjangkau, bahan baku kayu durian termasuk murah dan banyak diminati sebagai bahan pendukung pada kegiatan pembangunan.
Namun tanpa disadari, tingginya aktivitas penebangan pohon durian, baik yang dilakukan di Kepulauan Nias maupun daerah lain di Sumatera Utara (Sumut) akhirnya berimbas pada merosotnya produksi buah durian di dalam negeri. Hal ini mengingat Sumut merupakan salah satu provinsi penghasil durian terbesar di Indonesia.
Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya efek domino, dimana importir mendapat celah untuk mengimpor produk durian dari negera lain, terutama dari Thailand. Durian impor kemudian menggeser buah lokal dan pada akhirnya akan berdampak pada pendapatan petani durian.
Resiko kepunahan durian akibat penebangan secara serampangan tanpa diikuti upaya penanaman kembali seperti yang terjadi di Nias, dan daerah lain di Sumatera Utara menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat yang menjadikan komoditas ini sebagai penghasilan utama.
Ismail Ginting, seorang penangkar bibit tanaman di Dusun Tiga Namo Pecawir Desa Namo Surobaru Kecamatan Sibiru-biru Kabupaten Deliserdang, mengaku sangat khawatir melihat ‘nasib’ pohon durian di Sumut yang memiliki banyak jenis dengan kualitas terbaik.
“Banyak varietas durian kita yang berkualitas baik. Tapi kalau pohonnya banyak ditebang, dikhawatirkan buah durian ini akan punah,” ujarnya, dikutip dari MedanBisnis.
Berkurangnya minat masyarakat untuk mengembangkan tanaman durian dan lebih memilih untuk menebangi pohonnya, menurut Ismail, juga disebabkan kurangnya perhatian pemerintah untuk membantu petani, seperti dalam memberikan bibit, serta sarana dan prasarana untuk membudidayakan tanaman ini.
“Semakin terjepitnya perekonomian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, membuat masyarakat rela menebang pohon durian dengan mengambil kayu dan menjualnya untuk kebutuhan bahan bangunan,” jelas Ismail.
Bayangkan saja, lanjut Ismail, kayu pohon durian dapat dijual dengan harga Rp 5 juta hingga 10 juta per batang atau sesuai ukuran kayunya. “Dan petani yang ingin mendapatkan uang, biasanya langsung menjual kayunya, karena memang banyak yang mencari untuk dijadikan bahan bangunan,” katanya.
“Kalau menunggu buahnya untuk dijual mereka harus menunggu musimnya dulu (panen-red). Belum lagi kalau produksi banjir, harga jual akan turun dan bersaing dengan durian dari propinsi lain bahkan durian impor yang mulai banyak dipasarkan,” katanya.
Penebangan pohon durian banyak dilakukan pada tanaman-tanaman tua, dan seharusnya petani menanam kembali dengan tanaman baru sehingga produksi tetap bertahan. Tapi yang menjadi kendala, petani tidak memiliki bibit unggul guna mengembangkan tanaman tersebut.
“Ini menyangkut juga masalah modal dan perhatian pemerintah dalam membantu petani guna mempertahankan pohon durian berkembang di Sumut,” katanya.
Diperkirakan, saat ini hanya bersisa 40% tanaman durian yang ada di Sumut, khususnya di daerah sentra seperti Kabupaten Deliserdang dan Langkat. Ini menjadi ancaman bagi produksi dan dikhawatirkan jika tidak segera diselamatkan akan membuat durian Sumut punah.
Penulis: Berkati Ndraha/Askur

















