Suaranusantara.com- Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jaleswari Pramodhawardhani bergabung dalam Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud. Kabar tersebut langsung diumumkan oleh Ketua TPN, Arsyah Raysid pada Rabu 15 November 2023.
Di TPN, Jaleswari dipercaya untuk memimpin Deputi Inklusi yang didalamnya diisi oleh perempuan-perempuan yang terdiri dari aktivis lingkungan hidup, pegiat kesetaraan bagi disabilitas hingga mantan Komisioner Komnas HAM Sandrayati Moniaga.
Saat menjadi tamu di podcast MrG TV yang dipandu oleh anggota DPR RI Marinus Gea yang dipublish pada 12 Juli 2022 lalu, Jaleswari sempat menyinggung bahayanya politik identitas, hoaks hingga ujaran kebencian pada perhelatan pemilu.
“Kalau kita bicara pemilu sejak reformasi, ketika pemilu digelar selalu ada kondisi eskalasi, entah keamanan kemudian potensi polarisasi sosial dan lain-lain sebenarnya terjadi. Dan itu wajar saja. Artinya menghadapi perhelatan pemilu di negara demokrasi seperti kita, itu wajar saja,” kata Jaleswari dikutip SuaraNusantara.com dari channel MrG TV, Kamis (16/11/2023).
Jaleswari menyebut, Presiden Joko Widodo concern dalam hal itu. Dalam podcast itu, Jokowi kata Jaleswari menyampaikan perlunya langkah-langkah dalam mengantisipasi terjadinya gejolak politik identitas, hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah terlebih menjelang pada pemilu 2024 mendatang.
“Karena ini yang paling murah dan mudah dilakukan atas nama konstituen, atas nama bagaimana memenangkan pemilu dan lain-lain. Tapi itu bahaya karena terjadi polarisasi sosial. Karena kita menghadapi implikasi itu, jauh-jauh hari harus ada pendidikan politik, literasi digital” ujarnya.
Jaleswari menuturkan, tidak pernah terbayangkan 5 bahkan 15 tahun yang lalu, kondisinya seperti saat ini. Di mana ujaran kebencian dan hoaks di tengah masyarakat membuat miri hingga membuat perpecahan ditengah-tengah masyarakat.
“Walaupun kita enggak sendiri sebetulnya, Amerika, Brazil dan negara-negara demokrasi yang lain juga mengalami semacam itu. Secara global kita masuk dalam arus itu, bahwa demokrasi kemudian dituduh menurun. Intinya, suka atau tidak suka kita menghadapi itu,” jelas Jaleswari.
“Yang paling penting bagaimana mengedukasi publik, ini bukan sekedar yang memilih, tetapi yang akan dipilih juga harus bertanggung jawab bahwa risiko dari menggunakan hoaks, ujaran kebencian, fitnah dan lain-lain punya implikasi kepada perjalanan bangsa ini jangka panjang,” pungkas dia.(Def)
Disclaimer: Stetmen Jaleswari Pramodhawardhani dikutip dari Podcast MRG TV denga judul Menuju Pemilu 2024 | Dinamika Politik & Keamanan Jelang Pemilu


















Discussion about this post