Suaranusantara.com– Debat panas calon presiden (Capres), Anies Rasyid Baswedan dan Prabowo Subianto soal oposisi dan demokrasi Indonesia.
Dalam debat tersebut, Anies mengatakan, kebebasan berpendapat hingga indeks demokrasi di Indonesia dinilai menurun.
“Bagaimana kebebasan menurun, indeks demokrasi kita menurun, bahkan pasal-pasal karet digunakan pada pengkritik (UU itE, pasal 14-15 UU). Kedua, oposisi minim, bisakah pemilu diselenggaran dengan netralitas? Persoalan demokrasi lebih luas dari parpol. Ini perlunya peran negara,” kata Anies.
Menanggapi hal tersebut, Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto menyebut, jika demokrasi tidak berjalan, Anies tidak mungkin menjadi gubernur DKI Jakarta.
“Saya berpendapat, Mas Anies ini agak berlebihan. Mas Anies mengeluh tentang demokrasi ini dan itu. Mas Anis dipilih jadi gubernur DKI menghadapi pemerintah yang berkuasa. Saya yang mengusung bapak. Kalau demokrasi kita tidak berjalan, tidak mungkin anda jadi gubernur. Kalau Jokowi diktator anda tidak mungkin jadi gubernur,” tegasnya.
Usai mendapatkan tanggapan dari Prabowo, Anies menyinggung soal Prabowo yang tidak tahan terhadap oposisi.
“Ketika kita mengahadapi proses demokrasi, ada pemerintah dan oposisi sama-sama terhormat. Bila ada oposisi, ada pandangan dan perspektif pembeda. Tapi tidak semua orang tahan untuk menjadi oposisi. Prabowo tidak tahan terhadap oposisi, beliau menyampaikan di luar kekuasaan tidak bisa berbisnis, kekuasaan lebih dari sekadar bisnis, uang, tapi kehormatan untuk menjalankan kedaulatan rakyat,” ungkapnya. (IF)


















Discussion about this post