Suaranusantara.com – Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia, Agus Jabo Priyono, melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 34 Lampung Timur sekaligus meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat (SR) permanen di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, pada Kamis, 11 Juni 2026
Kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah memastikan program Sekolah Rakyat berjalan sesuai target dan mampu memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kegiatan ini dilakukan untuk mengevaluasi kesiapan operasional Sekolah Rakyat yang ditargetkan mulai menerima siswa baru pada pertengahan Juli 2026. Program tersebut ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang mengalami keterbatasan akses pendidikan, termasuk mereka yang berisiko putus sekolah.
Pemerintah mempercepat pembangunan sarana dan prasarana agar sekolah dapat berfungsi sesuai jadwal dan mampu menjadi solusi dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan yang berkualitas.
Dalam arahannya kepada para siswa, pendidik, dan pendamping sekolah, Agus Jabo Priyono selaku Wakil Menteri Sosial RI menegaskan bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam membangun masa depan generasi muda dan mengurangi kemiskinan.
“Sekolah Rakyat ini dibangun untuk memutus kemiskinan antar generasi. Anak-anak harus mendapatkan prioritas agar tidak kembali terbebani pekerjaan di rumah. Pendidikan harus menjadi jalan untuk mengubah masa depan.” katanya
Selain menekankan pentingnya akses pendidikan, Agus Jabo juga mengingatkan seluruh pihak untuk membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.
Menurutnya, sekolah harus bebas dari perundungan, intoleransi, maupun kekerasan. Ia mengajak seluruh warga sekolah menumbuhkan budaya gotong royong, saling menghormati, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik yang berakhlak dan berdaya saing.
Sementara itu, Devi (16), salah satu siswi SRT 34 Lampung Timur yang menjadi penerima manfaat program Sekolah Rakyat, menceritakan pengalamannya ketika sempat tertunda melanjutkan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi keluarga. Orang tuanya bekerja sebagai petani tanpa memiliki lahan sendiri sehingga biaya pendidikan menjadi kendala.
“Saya sempat telat sekolah karena tidak punya biaya. Saya senang bisa sekolah di sini”, Ucap Devi.

















Discussion about this post