Suryo Utomo (Foto: sbm.itb.ac.id)Bandung-SuaraNusantara
Dosen Sekolah Bisnis Manajemen ITB Suryo Utomo sebelum menghilang dan ditemukan tewas terapung di genangan Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, Sabtu, 13 Mei 2017 silam, diduga bunuh diri dengan cara melompat dari jurang setinggi 20 meter.
“Hasil kesimpulan sementara autopsi, dugaan bahwa korban bunuh diri dengan meloncat ke jurang dari ketinggian 20 meter,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Yusri Yunus, di Bandung, beberapa saat lalu.
Suryo diduga melompat di jembatan Cisokan yang letaknya tidak jauh dari lokasi ditemukannya mobil pria berusia 30 tahun itu. Di dalam mobil Suryo polisi menemukan sejumlah barang milik korban. Tak ada barang berharga miliknya yang hilang. Bahkan kunci mobil pun masih tergantung.
Berdasarkan hasil autopsi, Yusri mengatakan di dalam tubuh korban terdapat beberapa luka, seperti luka sayatan dan luka benturan di kepala. Selain itu, beberapa tulang Suryo pun patah.
“Di bagian tulang iga dada kiri, tulang iga 1, 2, 3, 4 patah. Tulang punggung dan paha juga patah,” kata dia. Patah tulang tersebut diduga karena benturan saat Suryo melompat ke dalam sungai.
Yusri mengatakan ada dugaan upaya bunuh diri yang dilakukan Suryo sebelum melompat ke sungai. Hal itu, dibuktikan dengan adanya luka sayatan di lengan Suryo. Suryo pun sempat membeli cutter. “Ada sayatan di lengan kiri atas korban,” kata dia.
Sebelumnya, Suryo hilang kontak dengan keluarga sejak Rabu, 10 Mei 2017. Dua hari kemudian, mobil Suryo ditemukan di kawasan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Suryo meninggalkan seorang isteri dan seorang anak yang baru berusia 1 bulan.
Penulis: Kar
















