Suaranusantara.com – China merespon dengan marah terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, yang menggambarkan Presiden Xi Jinping sebagai pemimpin diktator.
Baerbock juga menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam konteks serupa sebagai contoh pemimpin diktator.
Pernyataan tersebut muncul dalam wawancara Baerbock dengan Fox News, di mana dia mengecam tindakan Rusia dalam invasi Ukraina. Dia mengemukakan pertanyaan retoris tentang apa yang mungkin terjadi jika Putin berhasil dalam perang tersebut, dengan mengaitkannya dengan pemimpin lain seperti Xi Jinping.
China merespons pernyataan tersebut dengan keras. Pemerintah pusat di Beijing bahkan memanggil duta besar Jerman, Patricia Flor, untuk menyampaikan protes terhadap pernyataan tersebut.
Baca Juga :Â Prabowo Subianto Putuskan Mencoret Bacaleg Mantan Terpidana Korupsi dari Partai Gerindra
Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa mereka “sangat tidak suka” dengan pernyataan Baerbock dan menentang klaim tersebut. Mereka menganggap pernyataan tersebut sebagai “provokasi politik terbuka” dan merusak martabat politik China.
Pernyataan Jerman ini bukan yang pertama kalinya Xi Jinping dianggap sebagai pemimpin diktator oleh pihak asing. Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden juga menggunakan istilah serupa, yang memicu amarah dari pemerintah China.
Hubungan antara Jerman dan China telah menjadi rumit, terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Jerman mengejar upaya pemulihan hubungannya dengan China, sambil berupaya mengurangi ketergantungan ekonominya pada China, terutama dalam sektor-sektor kunci seperti obat-obatan dan teknologi.
Baca Juga :Â Suami Maia Estianty, Irwan Mussry Akan Diperiksa KPK dalam Kasus TPPU
Pernyataan Jerman ini mencerminkan pergeseran dalam pandangan dunia terhadap China dan meningkatnya ketegangan internasional dalam hubungan dengan negara tersebut.(kml)


















Discussion about this post