Suaranusantara.com- Beras oplosan kini tengah menghantui masyarakat di seluruh penjuru Indonesia. Sebab, beras oplosan yang beredar dikemas secara premium, namun nyata kualitasn mutu, takaran hingga harga yang didapat konsumen tidak sesuai.
Diketahui sebelumnya, ada sebanyak 212 merek beras yang ternyata oplosan beredar di pasaran. Mirinya, beras dikemas premium dan dijual harga tinggi.
Dari sebanyak 212 merek, ternyata ada beberapa merek beras ternama ternyata oplosan yang dijual di retail modern, seperti Sania, Fortune, Siip dan masih banyak lagi.
Beras oplosan pun ternyata juga beredar di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta. Hal ini berdasarkan hasil sidak Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menemukan adanya beras kategori premium dengan merek yang diduga oplosan.
Beras bermerek yang ditemukan oplosan di daerah lain itu dipajang pedagang di pasar.
“Pedagangnya kami beritahu ke penjualnya kalau yang dipajang merupakan beras premium yang diduga oplosan,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, Kelik Yuniantoro pada Minggu, 20 Juli 2025.
Kelik mengatakan pihaknya mulai melakukan pengawasan langsung di lapangan setelah temuan yang dilakukan pemerintah pusat. Ia mengatakan temuan di wilayahnya berada di toko modern.
Menurut Kelik, jajarannya belum bisa mengambil tindakan atas temuan tersebut. Ia menyatakan tindakan yang diteruskan sebatas melakukan pengawasan untuk memastikan takaran timbangan hingga kondisi barang yang dijual.
“Tujuannya agar tidak ada konsumen atau pembeli yang dirugikan. Makanya, upaya pengawasan dan monitoring terus dilakukan secara berkala,” ujarnya.
Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, Ris Heryani mengatakan pihaknya sudah mendapat daftar beras dari Kementerian Perdagangan terkait dugaan oplosan. Ia menyatakan daftar itu juga jadi dasar pengawasan.
“Masyarakat kami minta tidak resah dengan adanya beras oplosan,” kata dia.
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wargoyo sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya akan mengontrol agar beras oplosan tidak mudah masuk di wilayahnya.
Hasto mengontrol dengan akan mengambil angkah konkret untuk menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen di pasar-pasar tradisional yang ada di wilayahnya, termasuk di Pasar Beringharjo.
Hasto mengatakan kios Segoro Amarto, yang sudah lama dikelola oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dan ada di beberapa pasar, akan menjadi model distribusi beras yang bebas dari praktik oplosan.
“Kami ingin mengontrol beras-beras oplosan itu melalui kios Segoro Amarto. Jadi di kios Segoro Amarto ini kita sediakan beras-beras yang standar, dengan berbagai macam level harga dan kualitas, nah, disitulah kami ingin memberikan contoh-contoh beras yang tidak oplosan, dan masyarakat kan bisa beli di toko Segoro Amarto,” katanya saat dijumpai di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, dilansir Senin 21 Juli 2025.


















Discussion about this post