Suaranusantara.com- Akhir-akhir ini masyarakat dikejutkan dengan adanya beras oplosan yang beredar luas di pasaran. Tak tanggung-tanggung ternyata ada sebanyak 212 merek beras yang ternyata oplosan. Beras dikemas secara premium dan dijual dengan harga tinggi, namun kualitas mutu tidak sesuai.
Bahkan dari 212 merek beras yang ternyata oplosan merupakan merek ternama seperti Sania, Fortune, Siip dan masih banyak lagi.
Wali Kota Yogyarkarta, Hasto Wardoyo guna mengontrol agar beras oplosan tidak mudah masuk di wilayahnya akan mengambil langkah konkret untuk menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen di pasar-pasar tradisional yang ada di wilayahnya, termasuk di Pasar Beringharjo.
Hasto mengatakan kios Segoro Amarto, yang sudah lama dikelola oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dan ada di beberapa pasar, akan menjadi model distribusi beras yang bebas dari praktik oplosan.
“Kami ingin mengontrol beras-beras oplosan itu melalui kios Segoro Amarto. Jadi di kios Segoro Amarto ini kita sediakan beras-beras yang standar, dengan berbagai macam level harga dan kualitas, nah, disitulah kami ingin memberikan contoh-contoh beras yang tidak oplosan, dan masyarakat kan bisa beli di toko Segoro Amarto,” katanya saat dijumpai di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, dilansir Senin 21 Juli 2025.
Orang nomor satu di Kota Yogyakarta ini tak memungkiri bentuk praktik oplosan yang umum terjadi, yakni mencampur beras berkualitas tinggi dengan beras yang mutunya lebih rendah.
Meski tidak berbahaya, Hasto menyebut praktik ini tetap dianggap menipu konsumen karena menyamarkan kualitas produk.
“Kadang-kadang beras kepala, beras kepala itu beras yang utuh itu dicampur dengan menir sehingga akhirnya kandungan menirnya itu kan jadi lebih tinggi. Sebetulnya oplosan itu kan tidak seperti dioplos dengan barang yang racun, itu kan tidak begitu. Oplosan di sini kan harusnya misalnya beras kepala, beras kepala kan harganya tinggi, kemudian bisa dicampur dengan beras yang mereknya lebih rendah. Contohnya menir tadi. Ya, hal-hal seperti itu yang harus kita awasi,” ungkapnya.
Agar beras oplosan tidak mudah masuk wilayahnya, maka pihaknya akan mengontrol guna konsumen di Yogyakarta tidak tertipu.
“Kami akan mengontrol, supaya tidak tertipu,” ujarnya menambahkan.


















Discussion about this post