Suaranusantara.com- Nilai tukar rupiah kembali harus berjuang di tengah tekanan global yang kian memanas. Seiring meningkatnya kekhawatiran investor atas kebijakan Amerika Serikat terhadap China, mata uang Garuda kembali tergelincir pada perdagangan Kamis pagi.
Situasi ini membuat pelaku pasar lebih memilih aset aman, sementara sentimen terhadap mata uang emerging market menurun tajam.
Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.15 WIB, rupiah tercatat melemah 53 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp16.638 per dolar AS di pasar spot. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,15 persen ke level 99,04, menandakan meningkatnya minat pasar terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (22/10/2025), rupiah sempat menutup sesi dengan sedikit penguatan sebesar 2 poin di level Rp16.585 per dolar AS. Namun momentum positif tersebut tak bertahan lama karena tekanan eksternal kembali mendominasi perdagangan hari ini.
Menurut laporan Trading View, bukan hanya rupiah yang tertekan, hampir seluruh mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran pasar setelah muncul kabar bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah menimbang pembatasan ekspor perangkat lunak ke China.
Langkah tersebut dianggap berpotensi memperburuk hubungan perdagangan kedua negara, yang selama ini sudah penuh ketegangan. Situasi itu kemudian memicu aksi jual di pasar keuangan Asia dan memperlemah nilai tukar sejumlah mata uang di kawasan, termasuk rupiah.
Dengan meningkatnya ketidakpastian global, analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih bisa berlanjut dalam waktu dekat, terutama jika kebijakan baru Washington benar-benar diberlakukan. Pelaku pasar pun cenderung bersikap hati-hati, menunggu arah kebijakan moneter global dan perkembangan hubungan AS–China selanjutnya.















Discussion about this post