Suaranusantara.com- Virus nipah kini tengah melanda India sehingga memicu kekhawatiran global termasuk Indonesia.
Kasus pertama merupakan seorang perawat perempuan dan kasus kedua perawat laki-laki. Keduanya berusia antara 20 hingga 30 tahun dan berasal dari wilayah Barasat, Distrik North 24 Parganas.
Kedua pasien mulai mengalami gejala khas infeksi NiV berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026.
Virus nipah sendiri merupakan penyakit zoonotik yang memiliki inang pada kelelawar buah. Virus ini dapat menular melalui perantara hewan lain (seperti babi) melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus (misalnya buah atau nira).
Kendati demikian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) RI mengimbau guna mencegah virus nipah menjangkati manusia, warga +62 diminta untuk tidak konsumsi aren dari pohonnya.
Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia, menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada inang alami kelelawar buah (Pteropus sp.) yang menandakan potensi sumber penularan di RI.
“Penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis (peradangan) yang dapat berakibat kematian,” ujar dia melalui keterangan resmi Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Virus Nipah dilihat Senin 2 Februari 2026.
Sebagai langkah kewaspadaan terhadap penyakit yang ditimbulkan akibat virus nipah, Murti mengimbau agar tidak mengkonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengkontaminasi sadapan aren atau nira pada malam hari.
Murti menganjurkan agar dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
“Oleh karena itu, sebelum mengkonsumsi aren/nira, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian, cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar,” tuturnya.
Walau hingga saat ini belum ada laporan virus nipah menjangkiti manusia, alangkah baiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap virus tersebut.
“Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa,” kata Murti.


















Discussion about this post