Suaranusantara.com- Setiap hari jutaan masyarakat Indonesia terus memproduksi sampah, baik non organik maupun organik. Butuh pengelolaan yang baik dan tepat agar bisa dimanfaatkan. Untuk itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan dalam pengelolaan sampah dilakukan secara integrasi dari hulu ke hilir.
Pengelolaan sampah harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Kata Tito, Indonesia masuk ke dalam lima besar sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia. Bahkan peringkat ketiga sebagai negara penyumbang sampah ke laut.
Mendapat gelar yang demikian, maka ini menjadi evaluasi bersama dalam menangani sampah.
Hal itu disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah Tahun 2026 bertema “Kolaborasi untuk Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, Indah)” di Gedung Balai Kartini, Jakarta, Rabu 25 Maret 2026.
“Saya hanya menambahkan sedikit beberapa data saja untuk betul-betul acara ini tidak seremonial, tetapi menjadi wake-up call yang kesekian kali,” ujar mantan Kapolri itu, Rabu 25 Maret 2026.
Sampah bukan cuma soal kebersihan, melainkan berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Bahkan sampah bisa menjadi nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat.
Tito menjelaskan, strategi pengelolaan sampah dapat dibagi ke dalam tiga pendekatan, yakni berbasis hulu, berbasis hilir, dan integratif.
Pendekatan hulu berfokus pada pengurangan sampah dari sumbernya, mulai dari rumah tangga hingga tingkat desa.
“Nah, yang berbasis hulu ini adalah berbasis lingkungan, rumah tangga. Jadi setiap rumah tangga bergerak, setiap lingkungan bergerak, RT, RW, dan desa misalnya,” imbuh Tito.
Dia menegaskan, pendekatan tersebut menekankan peran aktif lingkungan terkecil, seperti RT, RW, dan desa, untuk melakukan pengurangan (reduce) serta pengolahan sampah sejak awal.
“Kelompok ini sudah dari awal melakukan reduce, mengurangi sampah, dan kemudian mengolah sampah di lingkungan masing-masing,” terangnya.
Tito mencontohkan sejumlah daerah, seperti Banyuwangi, Klungkung, dan Subang, yang dinilai berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui pemilahan sejak sumbernya sehingga mampu menekan volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Selain itu, dia menyoroti potensi ekonomi dari pengolahan sampah organik melalui budi daya maggot atau larva lalat black soldier fly (BSF).
Inovasi tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah, seperti pakan ternak dan pupuk, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.
Di sisi hilir, Tito menekankan pentingnya penguatan sistem pengangkutan dan pengolahan sampah, terutama di wilayah perkotaan dengan volume tinggi.
Pemanfaatan teknologi dinilai dapat menjadi solusi sepanjang didukung tata kelola dan pengawasan yang konsisten.
Tito berharap, pengelolaan sampah tidak lagi bersifat reaktif, melainkan menjadi gerakan kolaboratif yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Kotanya bersih karena pasukan sampahnya yang bergerak cepat sehingga pada waktu pagi hari enggak ada sampah,” tandasnya.


















Discussion about this post