
Jakarta-SuaraNusantara
Bertepatan dengan masa liburan sekolah di bulan Juni mendatang, Miles Film merilis Kulari ke Pantai, sebuah tayangan yang diharapkan bisa mengisi kekosongan film anak-anak dalam kurun waktu setidaknya lima tahun terakhir.
Berdasarkan data 10 besar perolehan jumlah penonton periode tahun 2007-2018, memang hanya ada satu film anak-anak, yaitu Laskar Pelangi (Miles Films, 2008), yang menduduki urutan ke-3 film dengan jumlah penonton terbanyak. Sementara dalam waktu lima tahun terakhir, dari hampir 500 film yang diproduksi sineas lokal, jumlah film anak-anaknya tidak lebih dari 15 judul.
“Data ini menunjukkan minimnya tontonan untuk anak-anak di bioskop, padahal produksi film Indonesia semakin ramai,” ujar produser Mira Lesmana tentang latar belakang dibuatnya film Kulari ke Pantai, saat dikonfirmasi di Jakarta, beberapa saat lalu.
Kondisi ini, kata Mira, memicu keinginannya untuk kembali mempersembahkan karya baru bagi anak-anak Indonesia. Karena itu dia menggandeng sutradara Riri Riza, yang pernah sukses bersamanya ketika memproduksi Laskar Pelangi, sepuluh tahun silam.
Mira melihat saat ini industri perfilman tanah air semakin ramai dengan film-film berkualitas dan memiliki pencapaian prestasi yang luar biasa. “Saya ingin film anak-anak pun demikian,” katanya.
Hal senada dikatakan Riri Riza. Dia berharap film ini akan menjadi film liburan dengan komedi yang segar dan memiliki pesan-pesan positif untuk anak-anak. Untuk memperkuat kesan humor, sederetan komika papan atas diajak terlibat sebagai pemain. Sementara dua pemeran utama, Maisha Kanna dan Lil’li Latisha, baru pertama kali muncul di layar lebar.
”Tantangannya kali ini adalah membuat film anak-anak yang menyampaikan pesan dengan cara yang menghibur, lucu dan menyentuh lalu dikemas dalam bahasa kekinian. Tentunya film ini akan menjadi film liburan yang seru, dengan komedi segar dan punya pesan-pesan positif untuk anak-anak,” kata Riri Reza.
Tapi mengapa film bertema perjalanan? Riri Reza menjelaskan ketika dua karakter yang berbeda terjebak dalam sebuah perjalanan, mau tidak mau mereka harus saling berkomunikasi. “Melalui komunikasi, mereka terpaksa belajar untuk kompromi dan saling bertoleransi,” katanya.
Riri meyakini Indonesia adalah ruang yang tepat untuk membuat film perjalanan. Ada banyak cerita dan drama yang bisa digali selama perjalanan, dan itu bisa menggambarkan siapa diri kita yang sebenarnya. (Eka)

















