Suaranusantara.com – Hoarding disorder adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan kesulitan untuk membuang atau melepaskan barang-barang yang dimiliki, meskipun barang-barang tersebut tidak memiliki nilai atau kegunaan.
Penderita hoarding disorder merasa perlu menyimpan barang-barang tersebut dan merasa cemas jika harus membuangnya.
Akibatnya, barang-barang tersebut menumpuk dan mengganggu fungsi ruang hidup dan kesejahteraan penderita.
Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami hoarding disorder? Menurut Mayo Clinic, penyebab pasti hoarding disorder belum diketahui secara pasti.
Namun, ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam memicu gangguan ini, antara lain:
- Faktor genetik. Hoarding disorder dapat diturunkan dari orang tua atau kerabat dekat yang memiliki gangguan serupa.
- Faktor lingkungan. Hoarding disorder dapat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang traumatis, seperti kehilangan orang yang dicintai, bencana alam, atau kekerasan.
- Faktor psikologis. Hoarding disorder dapat berkaitan dengan gangguan kecemasan, depresi, gangguan obsesif-kompulsif, atau gangguan kepribadian. Penderita hoarding disorder mungkin memiliki masalah dengan pengambilan keputusan, organisasi, perencanaan, atau perfeksionisme.
- Faktor sosial. Hoarding disorder dapat dipicu oleh rasa kesepian, isolasi, atau kurangnya dukungan sosial. Penderita hoarding disorder mungkin merasa bahwa barang-barang yang disimpan memberikan rasa aman, nyaman, atau identitas.
Hoarding disorder dapat berdampak negatif bagi kesehatan fisik, mental, dan sosial penderita. Oleh karena itu, penting bagi penderita untuk mendapatkan bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, untuk mengatasi gangguan ini.
Beberapa jenis terapi yang dapat membantu penderita hoarding disorder adalah terapi kognitif perilaku, terapi kelompok, atau terapi keluarga.


















Discussion about this post