Suaranusantara.com- Pasar keuangan Asia-Pasifik pagi ini bergerak campur aduk. Di tengah ketidakpastian global, rupiah justru bangkit, memanfaatkan celah dari kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang sedikit melunak. Namun, ancaman perang dagang tetap membayangi.
Menurut data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 80 poin atau sekitar 0,47 persen ke posisi Rp16.729,5 per dolar AS. Sebelumnya, pada Rabu (8/4), rupiah sempat ditutup melemah di level Rp16.891.
Kebangkitan mata uang Garuda ini didorong oleh keputusan mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump, yang menunda pemberlakuan tarif impor selama 90 hari untuk sebagian besar negara. Namun, keputusan ini tidak menyeluruh—tarif umum 10% atas hampir seluruh barang impor tetap berlaku, termasuk tarif atas mobil, baja, dan aluminium.
Langkah Trump ini memicu reaksi pasar yang cukup positif. Bahkan indeks dolar tercatat turun 0,11 poin ke 102,7. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga ikut melorot 2 basis poin menjadi 4,28 persen.
Namun, ketegangan dengan China justru semakin memanas. Tarif atas produk-produk asal Negeri Tirai Bambu dinaikkan dari 104 persen menjadi 125 persen. Sebagai respons, China tak tinggal diam. Mereka menjatuhkan tarif balasan hingga 84 persen terhadap barang-barang asal AS dan menjatuhkan sanksi kepada 18 perusahaan asal Amerika, sebagian besar di sektor pertahanan.
Ekonom dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menyebut bahwa langkah Trump ini bisa menjadi sinyal bahwa perang dagang belum akan mereda. Ia menilai ada peluang tarif-tarif lain bisa kembali dinaikkan dalam waktu dekat.
Pasar saham global pun turut merespons. Bursa dunia sempat rebound setelah mengalami tekanan hebat beberapa hari sebelumnya. Langkah Trump memberi sedikit kelegaan bagi investor, meski sentimen kehati-hatian tetap tinggi.
Dari sisi mata uang, pergerakan variatif juga terjadi di kawasan Asia. Dolar AS menguat terhadap won Korea Selatan hingga 0,6 persen ke posisi 1.455,88. Sementara terhadap yen Jepang justru melemah 0,6 persen ke level 146,86, dan terhadap dolar Australia turun 0,4 persen ke 0,6131.
Di tengah ketidakpastian ini, emas dan aset safe haven lainnya kembali jadi incaran investor, seiring meningkatnya tensi perdagangan global dan kekhawatiran atas dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia.


















Discussion about this post