Suaranusantara.com- Kebijakan ekonomi Donald Trump kembali menjadi sorotan. Kali ini, dampaknya langsung terasa di lantai perdagangan mata uang global. Rupiah termasuk yang terdampak, dibuka melemah pada Rabu pagi seiring naiknya ekspektasi inflasi AS dan penguatan imbal hasil obligasi pemerintah negeri Paman Sam.
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg pukul 09.12 WIB, rupiah tercatat berada di posisi Rp 16.279 per dolar AS, turun sekitar 12,5 poin atau 0,08 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat naik tipis menjadi 98,57. Kondisi ini menjadi kelanjutan dari perdagangan hari sebelumnya, di mana rupiah juga sempat melemah ke level Rp 16.266,5 per dolar AS.
Laporan inflasi Amerika untuk bulan Juni menunjukkan lonjakan harga pada berbagai barang impor, seperti kopi, perangkat audio, dan perlengkapan rumah tangga. Kenaikan ini memperkuat dugaan bahwa kebijakan tarif Trump mulai berdampak nyata terhadap harga-harga di tingkat konsumen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS, terutama tenor 10 tahun, turut terdongkrak hingga menyentuh angka 4,4950 persen—tertinggi dalam sebulan terakhir. Obligasi jangka pendek dua tahun pun stabil di kisaran 3,95 persen.
Kondisi ini mengubah ekspektasi pasar terkait arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Jika sebelumnya pasar memperkirakan akan ada pelonggaran moneter, kini ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed hingga akhir 2025 turun menjadi sekitar 43 basis poin, dari sebelumnya lebih dari 50 bps.
Penguatan dolar paling menonjol terlihat terhadap yen Jepang, yang sempat jatuh ke level terendah empat bulan di angka 149,03 per dolar pada Selasa malam. Di sisi lain, euro dan pound sterling ikut tertekan, masing-masing diperdagangkan di kisaran terendah tiga pekan, yaitu US$ 1,1608 untuk euro dan US$ 1,3394 untuk pound.
Di tengah ketidakpastian arah suku bunga, muncul pula kabar yang memanaskan situasi—yakni kritik terbuka Trump terhadap Ketua The Fed Jerome Powell. Trump mempertanyakan pembengkakan biaya renovasi kantor pusat bank sentral AS yang disebut mencapai US$ 2,5 miliar, dan menyebutnya bisa menjadi dasar pemberhentian Powell.
Ketegangan ini semakin memperuncing spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa Trump berpotensi mengganti Powell dengan figur yang lebih sejalan dengan kebijakan ekonomi longgar. Analis menilai, jika hal ini terjadi, maka arah kebijakan moneter AS ke depan bisa berubah drastis.
Sementara itu, dari sisi perdagangan internasional, Trump juga mengumumkan bahwa Amerika akan memberlakukan tarif baru sebesar 19 persen terhadap sejumlah barang dari Indonesia sebagai bagian dari kesepakatan awal bilateral. Selain itu, tarif tambahan sekitar 10 persen disebut akan diterapkan pada beberapa negara kecil lainnya, dengan pemberitahuan resmi yang segera dikirimkan.
















Discussion about this post