Suaranusantara.com- Saham gorengan memang terdengar lezat, tapi jangan salah, istilah ini justru merujuk pada saham berisiko tinggi. Harga bisa melonjak belasan hingga puluhan persen dalam sehari, namun tanpa landasan kinerja yang jelas. Jika tidak hati-hati, alih-alih cuan, justru bisa jadi jebakan yang merugikan.
Pengalaman pahit pernah tercatat dalam kasus korupsi di PT Asabri (Persero) dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Manipulasi saham yang terjadi dalam skandal tersebut mengakibatkan kerugian besar dan memperlihatkan betapa rawannya investor ritel terjebak permainan bandar.
Salah satu tanda klasik dari saham gorengan adalah masuknya emiten ke daftar Unusual Market Activity (UMA) Bursa Efek Indonesia. Peringatan ini muncul ketika harga saham naik terlalu cepat dalam beberapa hari berturut-turut hingga menyentuh auto reject atas (ARA), yang besarnya berbeda tergantung level harga saham.
Selain itu, saham gorengan biasanya memiliki kapitalisasi pasar kecil namun transaksi hariannya melonjak tak wajar, bahkan bisa menyaingi saham unggulan berkapitalisasi besar. Kondisi ini terjadi karena bandar lebih mudah mengendalikan saham dengan kepemilikan publik yang minim.
Ciri lain dapat dilihat dari antrean bid dan offer yang tipis-tipis, sehingga harga mudah digerakkan ke atas. Tak jarang, pergerakan harga yang melonjak jauh tidak didukung laporan keuangan ataupun aksi korporasi emiten. Bahkan, ada kalanya kinerja perusahaan justru merosot saat harga sahamnya melambung tinggi.
Dari sisi valuasi, saham gorengan juga sulit dipahami. Rasio harga terhadap nilai buku maupun laba bersih biasanya melesat jauh di atas standar industri. Akibatnya, saham seperti ini tak bisa dianalisis secara fundamental, sementara secara teknikal pun pergerakannya terlalu liar atau justru stagnan.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian. Bagi investor yang belum berpengalaman, jebakan saham gorengan bisa berakhir pada kerugian besar. Bursa sendiri melalui UMA kerap memberi sinyal peringatan, namun pada akhirnya keputusan untuk masuk atau menjauh tetap berada di tangan investor.


















Discussion about this post